Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label curhat

Umur yang Beranjak

Mungkin, karena  pada dasarnya semua manusia itu baik adanya, tapi karena didesak oleh kebutuhan hidup dan tren nggak penting yang sering dipengaruhi dari media-media yang ada, karakter seseorang dapat berubah. Aku ingat bagaimana polosnya dulu, ketika masih memakai rok abu-abu, menganggap semua orang baik. Kami tertawa bersama, bercanda, dan bergaul akrab. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, atau golongan agama tertentu, siapa orang tua-mu, dan sehebat apa kamu di pelajaran MAFIA. Semua berbaur dengan asyik dan tidak ada pandangan meremehkan. Paling-paling, kehidupan putih abu-abu diisi dengan gossip kakak kelas yang pacaran dengan junior, atau ketua OSIS ganteng yang bisa dikecengin , atau sinetron apa semalam dan berita hot gossip para artis. Sudah. Itu saja. Dan sampai di sana, kami sudah puas. Sekarang, setiap orang seperti tidak bisa menjaga privasinya masing-masing, tidak punya hak untuk menutup mulut orang yang rewel mengomentari hidup pribadinya. Heran, bingu...

Topeng

Sumber: https://favim.com/orig/201106/15/colorful-cute-girly-mask-pretty-vintage-Favim.com-76666.jpg Mungkin aku terkesan tidak sepandai itu bergaul atau mungkin aku terlalu pemilih. Namun, jelas sekali aku lelah untuk bersandiwara, menggunakan rupa-rupa topeng di berbagai kondisi yang berbeda. Aku lelah hanya untuk menjadi seperti yang orang lain pandang. Bolehkah aku menjadi diriku sendiri? Sudah, aku sudah pernah mencobanya dan aku tahu rasanya diterima dengan ‘si topeng’. Rasanya senang, tapi kemudian topeng itu makin lama makin melekat di wajahku hingga aku sukar melepasnya. Sepertinya ‘si topeng’ ingin menjadi bagian dari diriku yang tidak mau dilepas. Sementara, kondisi lainnya tidak menyukai aku dengan ‘si topeng’. Musim berganti dan waktu terus berputar. Ketika keadaan tidak lagi sama, tibalah saatnya aku melepaskan ‘si topeng’, berganti dengan ‘topeng itu’. Sulit dan tidak mudah, sebab perekat ‘si topeng’ yang kucabut ikut melukai kulitku. Sedikit, tapi tetap ...

LDR=Ruang

LDR bicara tentang perjuangan, jarak dan waktu, hati, kepercayaan, dan bagaimana belajar bersikap dewasa. Terdengar klise dan mudah diucapkan, pas dijalanin, alamak ! Berat kali kurasa #gayabatak. Kali ini aku akan membahas mengenai keuntungan LDR, sekaligus bisa menjadi keburukannya juga. Bagaikan pisau bermata dua, bagaikan racun dan madu di tangan kiri dan kanan… Baiklah. Bisa dibaca di judulnya. Selesai. … Ruang. Apa yang dimaksud dengan ruang? Sebelumnya aku akan mengajak pembaca untuk membayangkan… Bayangkan kalau gaya pacaran non-LDR, dengan tipe cewek seperti aku yang maunya gelayutan manja setia setiap saat (#bukaniklan). Bayangkan setiap hari harus antar-jemput melebih tukang ojek langganan. Bayangkan makan bersama pagi, siang, malam, dibayarin lagi (tekor pacarnya). Bayangkan, nggak ada waktu untuk berteman di akhir pekan, atau di waktu luang, karena larinya pasti bareng pacar (selayaknya lari di lapangan sambil pegangan tangan seperti yang kulihat ta...

Nilai Kejujuran

Mungkin itu disebabkan karena idealisme. Ya, idealismeku. Aku ingat bagaimana sewaktu kecil aku diajari kejujuran. Semua nilai moral yang baik seharusnya memang berangkat dari pengajaran dalam keluarga. Sewaktu amplop yang berisi uang duka untuk dikumpulkan esok hari diberikan padaku, aku lalai sehingga lupa meletakkannya. Alhasil, amplop itu tertukar dengan kepunyaan saudaraku yang lain. Karena jumlahnya yang berbeda dalam amplop putih polos yang sama persis, diberikan oleh orangtua kami masing-masing, akhirnya aku tidak bisa membedakan amplop mana yang milikku. Mamaku bertanya padaku, mana yang merupakan amplop milikku? Aku tidak bisa menjawab dan hanya menunduk. Setelah ditanya ulang, aku menunjuk asal salah satu amplop. Mamaku bilang, “Kalau memang tidak tahu, lebih baik jawab jujur.” Aku ketakutan setengah mati karena mamaku sangat galak. Ia tidak segan-segan memarahiku dengan nada tinggi dan suaranya yang keras. Akhirnya, aku mengakui. Aku tidak tahu mana amplop yang ...

Menahan Diri

Sumber : https://pixabay.com/en/self-control-willpower-restraint-710228/ Awalnya hanya menahan diri, tapi lama-lama akan terbiasa (seharusnya begitu). Wajar kan kalau aku melindungi hatiku sendiri? Seperti yang pernah aku bilang, aku terlalu takut untuk jatuh, terlalu takut untuk sakit. Orang bilang, sakit itu bagian dari pembelajaran, pengalaman yang berharga, guru yang manjur…tapi kalau kejadiannya selalu saja rasa sakit itu yang kurasa, aku ragu. Luka lama bahkan belum mengering atau bekas luka yang lalu masih terlihat, tapi ditimpal lagi di tempat yang sama. Aku takut, luka itu makin melebar dan bernanah, makin sakit. Pada akhirnya, apakah aku harus menyama-ratakan semua perasaan kepada setiap orang? Tidak ada yang lebih dan kurang. Semua akan terasa lebih mudah kalau merasa biasa kan ? Memati-rasakan perasaan?! Aku bertanya, apa itu cinta? Apakah masih ada cinta di kehidupan ini? Bagaimana kehidupan setelah pernikahan? Ada yang pernah bilang padaku, rasanya bu...

Post di Penghujung Bulan Agustus

Malam ini, galau euy . Alasannya? Nesis nggak kelar-kelar. Revisi terus. Padahal udah latihan nulis di blog, tapi belum ada kemajuan yang signifikan. Ya iyalah, bahasa nggak resmi, kalimat nggak mengandung SPOK, jalur bebas (kaya tulisan di pangkalan ojek, jalur bebas gitu). Selain galau nesis, pasalnya ini tanggalnya. Syukurlah, walaupun sudah sangat mendekati akhir bulan. Setiap bulan berharap, takut rasanya. Berharap aku ini perempuan normal yang sehat. Kata orang, itu menurun, bisa dari gen. Bukan berlebihan mengenai hal itu karena beberapa kasus dari garis keturunan papa mengalami kasus yang serupa. Aku tahu, ujung hidup manusia adalah kematian. Kalau memang proses kelahiran bukanlah sesuatu yang bisa aku pilih, begitu juga dengan kematian. Kalau begitu, aku memilih untuk melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan selama aku hidup, itu pilihan yang bisa aku lakukan, kan ? Ketakutanku? Aku takut Tuhan marah dan menilai aku belum komplit menyelesaikan misi yang DIA berikan ...

Menulis Kisah

Sumber http://greatfon.com/id/pictures/188331/version/1024x1024 Mungkin rasanya tidak menjadi lebih mudah, tapi setidaknya bebannya menjadi lebih ringan. Ada sebagian kekhawatiran yang menguap, prasangka yang tidak terjadi, dan dugaan yang tidak sepenuhnya benar. Aku mengucap syukur atas apa yang telah terjadi. Penyesalan? Ya, rasa sesal itu ada. Betapa cerobohnya aku bertindak ketika akal sehat sedang tidak berkuasa karena emosi mengambil peranannya. Kesabaran dan perlakuan yang kuterima membawa aku kembali mengingat kebaikan-kebaikan yang diberikanNYA padaku, sepanjang hidupku. Mungkin tanpa sadar, hatiku bertanya pada DIA, jalan yang mana TUHAN? Sebab, seolah kesemuaannya sama saja, aku tidak dapat melihat ujungnya. Aku hanya mendengar kabar semilir bahwa akhirnya akan bahagia, tapi aku belum tahu lika-liku tiap belokan yang harus aku lalui. Kadang tanjakan, kadang jalan yang berbatu, tak sedikit pula kutemui beberapa rintangan. Aku melihat laut, mereka berada di...

Beauty and The Beast

Hari ini aku terharu banget karena dapat kesempatan buat… Memang, karena masalah kecil banget kok, hanya karena aku bisa nonton Beauty and The Beast, sendiri, dan aku sungguh menikmati filmnya. Salah nggak yah? Dari semua princess tale di Disney, aku memang paling suka Belle. Dia sederhana, berjiwa berpetualang, dan keingingtahuannya. Dia juga suka baca buku dan yang paling penting dia mencintai seseorang karena hati. Aku cuma membayangkan, Tuhan itu mencintai manusia nggak pandang paras kita, kelebihan kita, kehebatan kita, tapi dari kelemahan dan kekurangan kita sekalipun, DIA tahu dan DIA tetap mencintai kita, karena dari kelemahan kita DIA pingin bilang kalau DIA yang akan menyempurnakannya tanpa mempermasalahkan sedikit pun. Di tengah kepenatan dan seabrek-abrek kewajiban dan tanggung jawab yang dikejar tayang, rasanya memang seperti menunda pekerjaan selama 120 menit, tapi itu berharga banget dan sangat membantu aku. Menghibur aku. Salah nggak yah? Belle benar-benar ...

Si Waktu

Kalau dulu punya rasa yang kaya nano-nano buat ditelaah, supaya bisa dipilah mana yang buruk dan nggak, mana yang perlu dipertahankan dan mana yang dibuang, sekarang rasanya, plongg … Actually , aku nggak bisa cerita secara langsung bukan karena aku nggak mau, tapi lebih kepada karena aku sendiri nggak tahu apa yang harus aku ceritakan. Bukan kosong atau hampa, tapi saking banyaknya hal yang terbelit di otakku (kayanya) jadinya terasa lepas semua. Ibarat kata, tanganku yang dua ingin banget memeluk erat sebatang pohon beringin yang jelas-jelas nggak akan ketemu lengan dengan lengan, tapi aku masih keukeh , masih usaha, barangkali saja bisa. And finally , aku sendiri terluka. Terus, aku berusaha manjat lagi pohonnya. Nggak peduli sama serat-serat kayu yang pada akhirnya menyusup masuk lewat kulit-kulit ari dan pori yang terbuka. Bahasanya kesusuban . Perih, sakit, dan mungkin saja tanpa aku sadari serat kayunya sudah menjalar mengikuti aliran darah dalam tubuhku. Itulah bahayany...

Salah Jurusan?

Seolah nggak ada tempat curhat, jadi aku nulis di sini. Sebenarnya mereka ada, hanya saja barang sepele seperti ini masa juga harus aku ceritakan secara verbal dengan menyita waktu in time mereka. Baiklah, sewaktu-waktu hal ini dibaca dan aku harap itu sudah berlalu. Aku awalnya semangat banget lanjut kuliah karena aku suka belajar dan explore  hal baru, tapi tentu aja kalau aku juga suka hal itu akan lebih mudah. Berawal dari Kimia MIPA di kampus menyandang nama Negri, aku akhirnya berlabuh pada kampus gajah bernama salah satu kota di negeri ini. Senang sekali rasanya dan beruntung, karena aku tahu dari tes masuk saja aku sebenarnya nggak compatible karena tanpa persiapan selayaknya seorang pejuang engineer , tapi toh atas berkat dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, my Lord Jesus , aku berhasil diterima dengan syarat khusus, syarat dimana aku harus berusaha dan belajar lebih ekstra dari mereka yang memang berlatar belakang teknik kimia. Seperti selintingan kabar yang ...

Setelah 3 Bulan

Sudah hampir 3 bulan nggak nulis, rasanya kangen banget. Maklum, kemarin sempat shocking event karena terancam nilai Termodinamika Lanjut berakhir dengan nilai E, jadi perhatian seluruhnya tersita dan tercurah pada belajar dan belajar, kitab kehidupan bagi per-termodinamika-an setebal 840 halaman dengan 16 bab, tapi ujiannya 14 bab. Semua itu harus dipelajari lebih detail (dalam kesempatan kedua untuk mengulang dan memperbaiki kesalahan yang terjadi) dalam kurun waktu 2 minggu sejak pengumuman mengenai kesempatan itu dibuka. Bisa dibayangkan betapa sadisnya, berkeringat dingin dan bersimbah air mata, ini beneran, nggak berlebihan. Karena aku salah satu peserta beasiswa, ada minimal IP yang harus aku capai kalau nggak mau mendapat surat peringatan yang berakibat aliran dana beasiswa berhenti. Nggak bisa dibayangkan karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hiks banget. Ditambah lagi permasalahan sosial yang melibatkan emosi. Nah, ini aku baru mau start up semangat buat cerita. ...

Judul: Sesukamu

Aku habis nonton film A long visit my mom , film korea yang dari judulnya aja sudah greget-greget berbau tangisan nih. Mantjap, lanjutkan. Film Korea Malam Ini Menguras Emosi! Pas nonton di 10 menit awal aja, air mata aku ngocor . Setengah jam kemudian, berlembar-lembar tisu sudah habis dipakai. Oke, ini nggak lebay, ini fakta. Di sela tangisku yang super heboh, sebenarnya aku lagi pingin banget nangis. Aneh yah? Tiba-tiba ada alasan aku bisa nangis bombay tanpa perlu kasih alasan lainnya karena aku bisa berdalih bahwa filmnya sedih. Dua minggu belakangan ini, rasanya ada hal yang mengganjal. Nggak tahu apa. Tertawa di kampus, senyum bak putri seolah sedang T-P-T-P, dan ngobrol dalam candaan…sejenak mengalihkan perasaan nggak enak ini, tapi nggak benar-benar mengusirnya. Ada rasa kangen, entah pada siapa. Benar, tidak ada satu subjek khusus. Aku hanya rindu pada sesuatu yang seolah sudah lama kukenal tapi kini berjarak, rindu pada kondisi yang begitu kompleks tapi sebena...

Malam Bermaaf-maafan

Ini bisa jadi permintaan maafku yang kesekian kalinya… Kamu pasti lagi nggak ada kerjaan, punya banyak waktu lowong yang bisa digunakan sehingga bisa membaca post ini yang isinya cuma seputar aku dan hidupku… Sementara aku juga punya banyak waktu lowong yang sengaja aku sediakan hanya untuk menulis barang satu sampai dua post sebelum menghilang beberapa hari hingga minggu untuk kemudian menulis lagi. Whatever it takes , aku mau bilang maaf kepada siapapun yang aku kecewakan, lukai, dan sakiti. Kemungkinan terbesar karena aku nggak sadar saat melakukannya, atau nggak sadar itu sudah mencapai level dimana orang lain nggak nyaman. Dulu, aku orang yang over care yang jatohnya jadi kepo ngurusin urusan orang lain dan ini nggak baik buat kedua pihak, somehow . Akhirnya, aku memutuskan untuk mengekang diri aku untuk mencampuri permasalahan orang lain dan mencoba menjadi pendengar yang baik. Kadang, orang hanya butuh didengar tanpa perlu solusi apa-apa karena belum tentu solusin...

Kamu...Iya, Kamu

Aku lagi G4L4U. Iya kamu… karena kamu nih. Jadi beralay ria. Soal stress… ah aku kan memang mudah mengalami stress hingga depresi tingkat ringan-menengah. Tapi kamu mah asik-asik aja di sana, ya? Kata bunda, biarkan aja. Nggak usah dipikirin kamu sama siapa, lagi apa, ngapain aja…tapi itu buat aku frustasi ketika aku bilang ke otakku ‘jangan’ tapi dia bilang ‘harus’. Jadi pro dan kontra dalam satu area yang sama yang disebut otakku. Katanya, bagaimana aku mencintai Tuhan yang tak berupa kalau kamu yang terlihat saja tidak kucintai. Duh, masalahnya kamu juga nun jauh di sana… dan kita sekali lagi terpisahkan jarak. Jangan dong, hatinya jangan terpisah. Di sini itu banyak godaan. Jadi eksis itu pilihan dan aku sebenarnya lebih milih kamu tuh di sini, jangan jauh… dan aku mulai nangis bombay nggak jelas. Berhari-hari mimpi ditinggal, gils , itu sedih banget. Aku memang nggak suka banyak hal, nunggu lama, makan nggak sehat, cerewet sana-sini, tapi lebih nggak suka lagi diboh...

I know for sure

I know for the sure, bahwa dosen yang kali ini baik. Maksudku, kadang package nya aja harus dikemas secara garang karena faktor lingkungan, kondisi cuaca, dan umur. Kadang profesionalisme itu menuntut kita untuk lebih serius, walau disela nya masih bisa diselipkan guyon dalam bentuk muka datar, nada datar. Karena tingkat humor seseorang akan seimbang dengan tingkat intelejensinya. Semakin pintar, semakin nyaris guyonnya itu tidak mudah dicerna oleh pendengar kaum awam. “Hah?” respon pendengar. Lalu mulai tersenyum tanpa tahu apa arti dari candaan tersebut. Manut. Biar tetap kesannya menghargai lawan bicara, apalagi kalau dosen yang menentukan lulus tidaknya suatu mata kuliah, ibarat hidup dan mati kita di kampus. Tjakep. Jadilah aku terdampar pada kursi paling depan, berhadapan langsung dengan dosen yang katanya sih killer. Bisa jadi ini pilihanku juga sih untuk duduk manis tanpa interupsi dari kanan dan kiri yang selonjoran di meja karena kepalanya berat (kaya aku biasanya), atau ...

Lagu Ceria jadi HOROR

Senang, riang, hari yang kunantikan Kusambut, 'Hai' pagi yang cerah Mataharipun bersinar terang Menemaniku pergi sekolah Senang, riang, hari yang kuimpikan Jumpa lagi kawanku semua S'lamat pagi, guruku tersayang Ku siap mengejar cita - cita Dengarlah lonceng berbunyi Kawan segeralah berlari Siapkanlah dirimu Dalam mencari ilmu Waktu cepat berganti Hingga lonceng terdengar lagi Semua pun bersorak dengan riang Senang, riang, masa depan 'kan datang Capai ilmu setinggi awan Hingga nanti aku t'lah dewasa Dunia kan tersenyum bahagia Lirik lagu di atas adalah lagu yang dinyanyikan Sherina dalam film Petualangan Sherina yang bombastis pas aku kecil dulu dan aku senang dengar lagu itu, awalnya… Tapi aku nggak suka lagi sama lagu ini karena lagu ini HOROR! Jadi ceritanya ada pelatihan LPDP bernama PK (Persiapan Keberangkatan) yang merupakan salah satu alur penerimaan beasiswa terkece sejagat tanah air Indonesia ini. Pelatihannya sederhan...