Langsung ke konten utama

Menulis Kisah

Hasil gambar untuk laut dan langit kelabu
Sumber http://greatfon.com/id/pictures/188331/version/1024x1024
Mungkin rasanya tidak menjadi lebih mudah, tapi setidaknya bebannya menjadi lebih ringan. Ada sebagian kekhawatiran yang menguap, prasangka yang tidak terjadi, dan dugaan yang tidak sepenuhnya benar. Aku mengucap syukur atas apa yang telah terjadi. Penyesalan? Ya, rasa sesal itu ada. Betapa cerobohnya aku bertindak ketika akal sehat sedang tidak berkuasa karena emosi mengambil peranannya.





Kesabaran dan perlakuan yang kuterima membawa aku kembali mengingat kebaikan-kebaikan yang diberikanNYA padaku, sepanjang hidupku. Mungkin tanpa sadar, hatiku bertanya pada DIA, jalan yang mana TUHAN? Sebab, seolah kesemuaannya sama saja, aku tidak dapat melihat ujungnya. Aku hanya mendengar kabar semilir bahwa akhirnya akan bahagia, tapi aku belum tahu lika-liku tiap belokan yang harus aku lalui. Kadang tanjakan, kadang jalan yang berbatu, tak sedikit pula kutemui beberapa rintangan.

Aku melihat laut, mereka berada di sekelilingku, seolah keberadaannya ingin melahapku, menenggelamkanku dalam kekelamannya yang pekat. Ketika kulihat langit, kadang warna kelabunya mengisyaratkan persahabatan yang sembunyi-sembunyi, seolah ia mendukung laut. Namun, ketika hari menjadi cerah kembali, langitlah yang membisikkan padaku untuk tidak takut pada laut. Lalu, sebenarnya siapakah yang menahklukan siapa?

Belum kuketahui saat ini, tapi siapa tahu ada kitab yang menuliskan perjalanan hidupku. Bisa kutemukan saat ini, bisa juga nanti. Atau aku harus menuliskannya sendiri?


ADIOS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Si Pita Hijau, Kuning, dan Merah

Ini pengalaman ospek yang lucu, menggemaskan sekaligus menyebalkan. Pasalnya, aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Ini terjadi pagi hari saat hari pertama OKK, ospek untuk Universitas di Depok berlangsung. Jam 7 pagi kami semua harus berkumpul, tapi aku dan teman-temanku malah berjalan santai berlenggang kangkung bak putri solo yang memakai kebaya rapat jaman dahulu. Jadi pada intinya, kita jalannya santai aja padahal ada kakak senior berjakun yang jagain dan ternyata kita nggak boleh naik bikun(alat transport)ke balairung, tempat berkumpul dan acara berlangsung. Otomatis, kita mesti lari-larian dari teknik melewati ekonomi, melewati jalan diantara FIB dan FISIP. Ngos, ngos. Pemeriksaan. Cek list, pass... Jalan santai lagi sambil menikmati hawa sejuk yang agak menusuk kulit tapi pemandangan hijaunya daun menyegarkan sekali. Kami seperti menganggap ini adalah jalan santai, jalan pagi bagi para manula untuk menghindari osteoporosis. Sementara, senior-senior berjakun sudah ber...

THE END

THE END. ADIOS.

Salam Perpisahan

Halo semua, ini mungkin jadi sapaan terakhir. Mohon maaf kalau terakhir hanya ada dua kata tanpa cuap-cuap perpisahan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis satu post lagi. Di post dua kata sebelumnya, aku memang berniat untuk menyudahi blog ini. Bukan berarti aku akan berhenti menulis. Tidak, tidak. Menulis adalah bagian hidupku yang tidak bisa kutinggalkan. Kalau ada anugerah Tuhan yang bisa aku miliki, menulis adalah satu-satunya hal yang aku tahu bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Mungkin (ini masih mungkin), aku akan membuat blog baru dengan nama baru. Aku sudah lama memikirkannya. Blog baru aku akan kuberi nama dengan anagram dari nama asliku. Blog baru-ku pastinya akan lebih membosankan dari blog ini. Jadi, bagi kamu-kamu yang sudah setia bersama blog ini, selama 9 tahun, terima kasih banyak. O yah, kenapa blog yang baru akan lebih membosankan? Karena isinya akan seputar opiniku mengenai politik dan SARA, pendidikan dan isu sosial di masyarakat, komentar kuli...