Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label perenungan

Fallen Crown

Sumber : https://www.goodreads.com/book/show/17238425-fallen-crown Seseorang mengatakan padaku bahwa ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan seperti drama di novel atau film di layar lebar. Begitu juga dengan aku, tapi hei, bukankah film dan tulisan itu terinspirasi dari sebagian kisah nyata yang kemudian dikembangkan lebih lanjut? Seolah tentang siapa yang lebih dulu dari siapa, seperti masalah telur dan ayam, begitu jugalah masalah ini. Jadi, siapa yang memulai? Seolah kelucuan dari tingkah lugu yang aku lakukan tidak pernah berhenti mengundang tawa sekaligus serapah. Ada yang suka dan ada yang tidak. Hidup menjadi semakin sulit karena pengaruh ucapan orang lain. Padahal, kita sendiri yang menjalani, kenapa ‘Situ’ yang repot? Ingin sekali memaki, mengumpat, menggunakan kata-kata kasar, tapi sepertinya terlalu sia-sia untuk dikatakan, yang tinggal hanya luka dan sakit hati. Lalu, dendam pun menghantui. Rasanya tidak puas kan kalau belum membalas? Begitulah sifa...

Obrolan dengan Waktu

Sumber : Dokumen Mule Ketika hari-hari berlalu dengan cepatnya, aku mencibir sang Waktu. “Hei, mengapa kau terburu-buru begitu. Santailah,” kataku sambil menjentikkan tanganku kepadanya. Waktu hanya menoleh sambil mendengus ke arahku kemudian ia menatap ke depan lagi. “Kau itu tidak mengerti. Aku sedang dikejar-kejar.” “Loh, kok Waktu dikejar? Biasanya kau yang mengejar orang.” Aku melihat Waktu yang siap berlari lagi. Sekilas, ada asap keluar dari hidungnya. “Ada banyak hal yang harus dikerjakan dengan cepat. Ada banyak kejadian yang harus terjadi dengan singkat.” Kali ini Waktu sudah lebih tenang. Ia melirik sekilas ke arahku penuh misteri. “Kau seenak-enaknya memaju-mundurkan dirimu. Memangnya boleh kau tidak berjalan normal seperti biasanya?” Waktu hanya mengangkat bahu. “Kau tidak mengerti.” “Memang. Kemari, jelaskan padaku hal yang tidak kumengerti itu!” perintahku sekenanya. Waktu lagi-lagi mencibir. “Dasar bocah manja. Kau belum diijinkan mengerti. Umurmu...

Pertanyaan Ini

Sumber: http://www.spring.org.uk/2015/12/this-question-could-change-many-of-your-habits.php Mungkin aku menulis dalam kegeramanku atau mungkin aku menulis dalam kebingunganku. Musuh yang buas bukan berasal dari luar, tapi dari dalam. Ingat bagaimana Yesus dikhianati oleh murid-NYA sendiri, Yudas Iskariot? Betapa sedihnya perasaan Yesus saat itu, entah bagaimana membayangkannya. Namun, sepertinya saat ini, hal tersebut juga yang terjadi. Aku diam, aku tidak membuka mulutku untuk perkataan yang dituduhkan padaku. Tiga orang yang berbeda, ini yang kuketahui, entah masih ada lagi di luar sana, yang mengatanasnamakan diriku mengucapkan kata yang tidak aku ucapkan. Kalian mungkin berpikir aku merasa tertuduh? Ya, aku memang dituduh. Entah, aku ingin bertanya, “Mengapa?” tapi apa gunanya? Toh , oknum-oknum itu tetap akan melakukannya. Tanpa sadar aku membangun benteng pertahananku sendiri. Krisis kepercayaan. Lagipula, mengapa aku harus percaya pada orang lain? Seperti pos...

Sudahilah atau Matilah

Pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang bisa dipercayai. Manusia adalah simbol dari kekecewaan. Berharap kepada manusia adalah sia-sia, sebab manusia adalah sosok yang suka berdalih. Tidak ada yang tidak ditambahi kebohongan dalam berucap, kecuali SATU ORANG. SATU ORANG yang tiada berdosa dan bernoda. Manusia boleh menjadikan SATU ORANG itu menjadi panutan dan teladan. Namun sesungguhnya, sekuat apapun manusia berusaha untuk menyamakan kedudukan kesempurnaan seperti SATU ORANG itu, tidak akan pernah bisa mencapainya. Seharusnya, manusia berdamai dengan dirinya sendiri. Beberapa menyangkal, suatu bentuk dalih lainnya. Suatu kesombongan ketika menganggap diri benar atau melakukan pembenaran diri. Marah adalah suatu tindakan spontan ketika merasa diri hebat, ketika merasa Tuhan Yang Di Atas ingin dibela. Padahal, siapa yang memerlukan pembelaanmu? Bahkan kau sendiri yang patut dibela oleh DIA yang mengatakan akan berjalan di depanmu dan berperang untukmu? Lantas mengapa tida...

Bila Waktuku Tiba

Akhir-akhir ini aku sering banget mual, perut sakit, dan nggak nafsu makan. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi apa sebentar lagi aku akan mati? Aku membayangkan kalau ajal menjemput itu seperti apa? Bukan karena aku takut menghadapinya, tapi pertanyaannya lebih kepada apakah aku sudah siap? Ketika aku menoleh ke belakang untuk melihat apa saja yang sudah aku lakukan, apakah itu memberikan efek positif? Sudah benarkah? Apakah aku sudah melakukan hal yang berguna bagi orang lain? Dan ketika aku melihat ke depan, pertanyaannya menjadi…hal apa yang belum aku lakukan? Sampai akhirnya, suatu Buku Tua mengajarkanku untuk melakukan yang terbaik tiap-tiap hari, selama masih dapat dikatakan ‘hari ini’. Segala yang aku perbuat untuk Tuhan supaya aku bisa melakukan yang terbaik dengan segenap hatiku secara tulus. Dan pertanyaannya, apakah aku siap ketika waktuku tiba untuk pulang dan meninggalkan dunia ini? Jawabannya, harus siap! ADIOS.

The New Me

Rasanya seperti lahir baru kembali, mengingat lupa yang sempat ditinggal dan menemukan kembali apa itu bahagia yang ternyata kesemuaannya sederhana. Seperti, laptop yang baru aja di- install dan sukses lancar jaya tinggal beberapa aplikasi dimasukan kembali, bahagia. Bisa menyelesaikan tugas baca jurnal, bahagia. Nggak mikir aneh, nggak ada beban, sensitive, menghalau pikiran buruk, bahagia. Nggak cepat marah dan tersinggung, tetap bertahan dalam kesedihan yang segera ditepis, dan nggak perlu terlalu perduli dengan pelecehan karakter yang dilakukan orang, bahagia. Sesederhana itu bahagia, bahwa bukan perkataan orang, bahkan bukan pemikiran diri sendiri yang mesti dipikirkan, itu sudah meningkatkan kebahagiaan aku 300%. Semua itu berawal dari keterpurukan aku pada tanggal 18 Februari 2017, aku merasa di ujung kematian, tidak diinginkan, ditinggalkan dalam kesendirian, mencoba bertahan pada kaki yang rapuh dan pijakan yang seolah goyah karena diguncang sebegitu hebatnya. A...

Dalam Bahtera

Aku sudah menyampaikannya, bahkan sudah kuserukan kuat-kuat. Suaraku sudah sampai kepada meraka, namun mereka tidak mau mendengar. Mereka mengabaikan, bukan suaraku, namun suaraMU. Mereka melupakan segenap taurat dan FirmanMU. Aku hanya takut, murkaMU menyala, dan tak terpadamkan… Jaman dahulu kala, sebuah sejarah dicatat, agar bangsa berikutnya dapat belajar. Katanya, sejarah itu adalah guru paling manjur, karena kita bisa belajar sejarah, which is pengalaman dari hal yang sudah lampau. Kita, mungkin, bisa tahu bagaimana meraih kesuksesan dengan menggunakan taktik di jaman keemasan suatu kerajaan dan menghindari kesalahan yang sama pada saat keruntuhan suatu kerajaan. Tapi tampaknya, minat membaca orang-orang jaman ini sudah berkurang. Mereka lebih suka menonton sinetron, telenovela, FTV, atau drama-drama serial yang ceritanya monoton, akhirnya mudah ditebak, dan menyajikan kebohongan-kebohongan dalam rangkaian kisah fiktif yang mungkin hanya bisa terjadi di dunia nyata sebesar...

Aku mengagumiNYA!

Karena aku nggak tahu seberapa lama lagi aku bisa hidup di dunia dan berada dekat dengan orang-orang yang aku kasihi ini. Seberapa besar bekas yang udah aku tinggalkan? Apakah itu membantu atau menyusahkan? Apakah hal yang bersisa positif atau negative? Bukan karena aku seolah akan segera meninggalkan dunia ini…walau tak ada yang tahu mengenai waktuNYA, tapi… Aku hanya mau menyebarkan keceriaan selama yang aku bisa, seluas jangkauanku. Dulu mungkin aku sensi banget, sampai orang juga males deket karena takut. Pikiran juga negative dan banyak hal yang aku khawatirkan, mudah panik dan nggak santai. Daddy bilang, kalau aku di Bandung, banyak hal yang aku pelajari, belum lagi akan ada sesuatu yang pasti terjadi, entah apa. Di sini aku banyak belajar bagaimana memperhatikan secukupnya, tidak mengekang atau membuat sesuatu tidak nyaman. Terakhir pulang ke Jakarta bulan lalu dan aku dilanda kecemburuan sangat pada siapa pun di sana. Pada kenyataannya, tidak ada keadaan yang ...

Satu Ginjal Cukup

Hari ini aku jogging pagi. Niatnya biar sehat, kurusin badan, akhirnya malah bikin badan sakit dan makin gemuk karena makan tambah banyak, tapi topic malam ini bukan itu. Eh, udah subuh deh, bukan malam lagi. Jadi karena tempat olahraganya asik, pemandangannya bagus, dan ini putaran ke-11 sehingga aku jalan dengan langkah lambat, aku menikmati pemandangannya dulu. Pohon yang hijau, tanah yang coklat-setengah kering setengah berlumpur-, langit yang biru dan berganti kelabu, awan yang putih bergumpal di satu sisi dan menyisakan kecerahan di sisi lainnya, angin yang semilir membawa bau rumput yang disiram embun pagi, udara yang sejuk namun juga hangat di saat yang bersamaan dengan sinar matahari pagi yang menerpa, sejauh mata memandang ada gunung yang seolah menembus kelangit karena puncaknya disembunyikan awan, dan beberapa gedung tinggi. Wajah-wajah para pelari lain yang riang walau dipenuhi peluh, derap langkah kaki berlari yang berirama –cepat dan lambat-, atau sekedar obrolan r...

JanjiMU tak Ingkar

Seperti kataMU, bahwa janjiMU tak akan ingkar Sebab pelangi adalah lambang kesetiaanMU, lambang dari perjanjian yang tak ingkar Meskipun, kata mereka Engkau terlalu sibuk berputar pada pikiranMU yang tak terjangkau Bahkan hingga kudaki langit dan kugapai matahari dalam genggamanku Atau kuselami samudera terdalam sekalipun Menggali kedalaman bumi hingga ke intinya yang tertimbun Menanti dalam kesabaran langit menitikkan embun Tidak juga kudapati pikiranMU terselami Namun tak sekali pun KAU ingkari Kata mereka itu namun kataMU ini Kata mereka ini namun kataMU itu Betapa sulit menjalani nestapa yang seolah tak berujung Definisi kata dan perbendaharaan dunia yang menyanjung Yang bersahutan dan saling menyambung Tak bisa mengiringi setiap jejak kaki yang berjuang Seruput doa jadi saksi iman yang berikrar Menjadi komitmen dasar yang mengakar JanjiMU tak akan ingkar ADIOS.