Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label jeritan hati

Dunia dan Kamu

Akhir-akhir ini, dunia semakin kejam, tapi kau lebih kejam lagi. Singa yang ganas tidak memangsa anaknya, tapi kau bukan hanya memangsanya juga menyiksanya sebelum kau menyantapnya. Dunia memang semakin gila, tapi kau lebih gila lagi. Ayah memperkosa anak kandungnya, ibu membunuh darah dagingnya sendiri, pertengkaran saling merenggut nyawa karena harta dan tahta. Tapi kau lebih gila lagi! Dunia memang bengis, tapi kau lebih sadis lagi. Diktator memang pernah ada, saat ini pun juga. Caranya lebih halus. Penjajah memang sudah diusir, tapi rasa terjajah tetap ada. Koruptor memang banyak yang ditangkap, tapi tunas muda bakal koruptor tetap saja tumbuh. Kau lebih dari semua itu. Jangan, jangan tersinggung atau dendam. Ini bukan tentang siapa dan apa. Ini hanya tentang pelajaran hidup. Bumi masih memiliki gaya gravitasinya, masih berotasi pada sumbunya dan masih berevolusi mengelilingi matahari, masih menjadi planet yang diketahui paling layak dihuni. Mungkin semua...

Kita Tidak Pernah

Kita tidak pernah berjalan di tempat, Sayang Kita hanya dua insan yang sedang bergandengan tangan Tapi tetap saja, kita masing-masing menempuh jalan yang kita tapaki Kita tidak pernah tetap sama, Sayang Dunia berubah, waktu berubah, kita berubah Hanya harap menuju perubahan lebih baik, bukan? Kita tidak pernah salah, Sayang Karena sudah mencoba mengulang dan bertahan Yang salah kalau kita menutup mata dan menulikan telinga pada fakta Kita tidak pernah jenuh, Sayang Untuk akhirnya saling belajar, mengerti, percaya, dan setia Sampai akhirnya kita menemukan sesuatu yang benar dan bahagia kemudian ADIOS

Fallen Crown

Sumber : https://www.goodreads.com/book/show/17238425-fallen-crown Seseorang mengatakan padaku bahwa ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan seperti drama di novel atau film di layar lebar. Begitu juga dengan aku, tapi hei, bukankah film dan tulisan itu terinspirasi dari sebagian kisah nyata yang kemudian dikembangkan lebih lanjut? Seolah tentang siapa yang lebih dulu dari siapa, seperti masalah telur dan ayam, begitu jugalah masalah ini. Jadi, siapa yang memulai? Seolah kelucuan dari tingkah lugu yang aku lakukan tidak pernah berhenti mengundang tawa sekaligus serapah. Ada yang suka dan ada yang tidak. Hidup menjadi semakin sulit karena pengaruh ucapan orang lain. Padahal, kita sendiri yang menjalani, kenapa ‘Situ’ yang repot? Ingin sekali memaki, mengumpat, menggunakan kata-kata kasar, tapi sepertinya terlalu sia-sia untuk dikatakan, yang tinggal hanya luka dan sakit hati. Lalu, dendam pun menghantui. Rasanya tidak puas kan kalau belum membalas? Begitulah sifa...

Menahan Diri

Sumber : https://pixabay.com/en/self-control-willpower-restraint-710228/ Awalnya hanya menahan diri, tapi lama-lama akan terbiasa (seharusnya begitu). Wajar kan kalau aku melindungi hatiku sendiri? Seperti yang pernah aku bilang, aku terlalu takut untuk jatuh, terlalu takut untuk sakit. Orang bilang, sakit itu bagian dari pembelajaran, pengalaman yang berharga, guru yang manjur…tapi kalau kejadiannya selalu saja rasa sakit itu yang kurasa, aku ragu. Luka lama bahkan belum mengering atau bekas luka yang lalu masih terlihat, tapi ditimpal lagi di tempat yang sama. Aku takut, luka itu makin melebar dan bernanah, makin sakit. Pada akhirnya, apakah aku harus menyama-ratakan semua perasaan kepada setiap orang? Tidak ada yang lebih dan kurang. Semua akan terasa lebih mudah kalau merasa biasa kan ? Memati-rasakan perasaan?! Aku bertanya, apa itu cinta? Apakah masih ada cinta di kehidupan ini? Bagaimana kehidupan setelah pernikahan? Ada yang pernah bilang padaku, rasanya bu...

Post di Penghujung Bulan Agustus

Malam ini, galau euy . Alasannya? Nesis nggak kelar-kelar. Revisi terus. Padahal udah latihan nulis di blog, tapi belum ada kemajuan yang signifikan. Ya iyalah, bahasa nggak resmi, kalimat nggak mengandung SPOK, jalur bebas (kaya tulisan di pangkalan ojek, jalur bebas gitu). Selain galau nesis, pasalnya ini tanggalnya. Syukurlah, walaupun sudah sangat mendekati akhir bulan. Setiap bulan berharap, takut rasanya. Berharap aku ini perempuan normal yang sehat. Kata orang, itu menurun, bisa dari gen. Bukan berlebihan mengenai hal itu karena beberapa kasus dari garis keturunan papa mengalami kasus yang serupa. Aku tahu, ujung hidup manusia adalah kematian. Kalau memang proses kelahiran bukanlah sesuatu yang bisa aku pilih, begitu juga dengan kematian. Kalau begitu, aku memilih untuk melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan selama aku hidup, itu pilihan yang bisa aku lakukan, kan ? Ketakutanku? Aku takut Tuhan marah dan menilai aku belum komplit menyelesaikan misi yang DIA berikan ...

Si Waktu

Kalau dulu punya rasa yang kaya nano-nano buat ditelaah, supaya bisa dipilah mana yang buruk dan nggak, mana yang perlu dipertahankan dan mana yang dibuang, sekarang rasanya, plongg … Actually , aku nggak bisa cerita secara langsung bukan karena aku nggak mau, tapi lebih kepada karena aku sendiri nggak tahu apa yang harus aku ceritakan. Bukan kosong atau hampa, tapi saking banyaknya hal yang terbelit di otakku (kayanya) jadinya terasa lepas semua. Ibarat kata, tanganku yang dua ingin banget memeluk erat sebatang pohon beringin yang jelas-jelas nggak akan ketemu lengan dengan lengan, tapi aku masih keukeh , masih usaha, barangkali saja bisa. And finally , aku sendiri terluka. Terus, aku berusaha manjat lagi pohonnya. Nggak peduli sama serat-serat kayu yang pada akhirnya menyusup masuk lewat kulit-kulit ari dan pori yang terbuka. Bahasanya kesusuban . Perih, sakit, dan mungkin saja tanpa aku sadari serat kayunya sudah menjalar mengikuti aliran darah dalam tubuhku. Itulah bahayany...

Setelah 3 Bulan

Sudah hampir 3 bulan nggak nulis, rasanya kangen banget. Maklum, kemarin sempat shocking event karena terancam nilai Termodinamika Lanjut berakhir dengan nilai E, jadi perhatian seluruhnya tersita dan tercurah pada belajar dan belajar, kitab kehidupan bagi per-termodinamika-an setebal 840 halaman dengan 16 bab, tapi ujiannya 14 bab. Semua itu harus dipelajari lebih detail (dalam kesempatan kedua untuk mengulang dan memperbaiki kesalahan yang terjadi) dalam kurun waktu 2 minggu sejak pengumuman mengenai kesempatan itu dibuka. Bisa dibayangkan betapa sadisnya, berkeringat dingin dan bersimbah air mata, ini beneran, nggak berlebihan. Karena aku salah satu peserta beasiswa, ada minimal IP yang harus aku capai kalau nggak mau mendapat surat peringatan yang berakibat aliran dana beasiswa berhenti. Nggak bisa dibayangkan karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hiks banget. Ditambah lagi permasalahan sosial yang melibatkan emosi. Nah, ini aku baru mau start up semangat buat cerita. ...

Judul: Sesukamu

Aku habis nonton film A long visit my mom , film korea yang dari judulnya aja sudah greget-greget berbau tangisan nih. Mantjap, lanjutkan. Film Korea Malam Ini Menguras Emosi! Pas nonton di 10 menit awal aja, air mata aku ngocor . Setengah jam kemudian, berlembar-lembar tisu sudah habis dipakai. Oke, ini nggak lebay, ini fakta. Di sela tangisku yang super heboh, sebenarnya aku lagi pingin banget nangis. Aneh yah? Tiba-tiba ada alasan aku bisa nangis bombay tanpa perlu kasih alasan lainnya karena aku bisa berdalih bahwa filmnya sedih. Dua minggu belakangan ini, rasanya ada hal yang mengganjal. Nggak tahu apa. Tertawa di kampus, senyum bak putri seolah sedang T-P-T-P, dan ngobrol dalam candaan…sejenak mengalihkan perasaan nggak enak ini, tapi nggak benar-benar mengusirnya. Ada rasa kangen, entah pada siapa. Benar, tidak ada satu subjek khusus. Aku hanya rindu pada sesuatu yang seolah sudah lama kukenal tapi kini berjarak, rindu pada kondisi yang begitu kompleks tapi sebena...

Anomali pada Kaki

Oke, karena sudah semakin banyak yang menyadari hal ini, mulai dari teman di SMA paska kejadian, teman kuliah, hingga teman kantor yang blak-blak-an tanya, dan terakhir teman kuliah (lagi) di kondisi yang berbeda. Awalnya mungkin aku akan sedih untuk mengatakan apa alasannya, lalu lama-kelamaan jadi terbiasa. Aku menyadari betul bahwa hal ini adalah hukuman yang patut aku dapatkan. Suatu kesalahan karena keegoisanku menyebabkan orang lain meninggal. Seorang bapak yang memiliki seorang istri dan tiga orang anak, mereka harus ditinggalkan. Salah satu penyebab bapak itu meninggal, karena aku dan orang-orang yang ditinggalkan harus hidup tertatih dari sisa warisan yang ada. Seandainya saat itu aku tidak tertidur, seandainya saat itu aku menunggu waktu dan berdoa pada waktu yang tepat, tidak perlu ada kecelakaan itu, tidak ada luka di bahu kanan ku dan memperparah keadaan kaki kananku. Kanan…suatu hal ngeri bagiku ketika bagian tubuh sebelah kanan mengalami sakit atau luka. Awalny...

Malam Melawan Rasa Ingin Tahu

Aku menahan jariku menyentuh huruf-huruf yang terpampang di keyboard ponselku, mematikan layarnya kemudian menjauhkannya dari jangkauanku. Berusaha fokus pada buku teks setebal kitab di hadapanku. Sial! Kenapa juga aku mesti tergoda untuk tahu urusan orang lain. Masa bodoh, masa bodoh! Batinku berkali-kali memanipulasi otak. Tapi perasaanku agaknya mendominasi. Memang kadang benar juga, prasangka bisa membuat akal budi hilang-timbul. Lawan! Lawan! Batinku masih berjuang membawa aku kepada kesadaran. Katanya aku harus tidak peduli dengan apa yang dia lakukan, dengan siapa, mau bagaimana juga. Katanya kalau aku galau, aku berdoa saja. Pesan-pesan yang diucapkan padaku tempo dulu itu tidak sanggup membuat aku tersadar barang sedetikpun, sebab aku lupa. Aku mengambil kembali ponselku, membuka aplikasi chat dan ingin, sangat teramat ingin, melontarkan sejuta pertanyaan dari setiap prasangka dan imajinasi yang sudah diintegralkan tanpa pernah tahu kebenaran yang ada. Aku tutup ...

Kamu...Iya, Kamu

Aku lagi G4L4U. Iya kamu… karena kamu nih. Jadi beralay ria. Soal stress… ah aku kan memang mudah mengalami stress hingga depresi tingkat ringan-menengah. Tapi kamu mah asik-asik aja di sana, ya? Kata bunda, biarkan aja. Nggak usah dipikirin kamu sama siapa, lagi apa, ngapain aja…tapi itu buat aku frustasi ketika aku bilang ke otakku ‘jangan’ tapi dia bilang ‘harus’. Jadi pro dan kontra dalam satu area yang sama yang disebut otakku. Katanya, bagaimana aku mencintai Tuhan yang tak berupa kalau kamu yang terlihat saja tidak kucintai. Duh, masalahnya kamu juga nun jauh di sana… dan kita sekali lagi terpisahkan jarak. Jangan dong, hatinya jangan terpisah. Di sini itu banyak godaan. Jadi eksis itu pilihan dan aku sebenarnya lebih milih kamu tuh di sini, jangan jauh… dan aku mulai nangis bombay nggak jelas. Berhari-hari mimpi ditinggal, gils , itu sedih banget. Aku memang nggak suka banyak hal, nunggu lama, makan nggak sehat, cerewet sana-sini, tapi lebih nggak suka lagi diboh...

Parno Babak 2

Ada sedikit kekhawatiran setelah aku nonton drama korea yang ceritanya tentang penderita Alzheimer. Masih ingat dengan Lethalogica aku? Mungkin biasa, kebanyakan orang pernah mengalami yang namanya lupa. Itu lumrah. Tapi belakangan ini entah karena terlalu fokus sama belajar dan memahami setiap rumus yang ada, jadinya aku kekurangan daya ingat untuk hal-hal sepele lainnya atau bagaimana yah… Pasalnya, aku lupa bawa jaket dan power bank yang jelas-jelas ada di atas meja, lupa HP aku taruh di mana, lupa melakukan sesuatu yang aku ingat semenit sebelumnya, lupa pada hal-hal kecil dan sepele. Aku hanya takut Lethalogica itu bertambah parah. Sempat baca di artikel dimana dikatakan bila semasa mudanya sering berpikir banyak hal pada suatu keadaan, pada masa tua, daya pikir itu akan menurun drastic menyebabkan pikun atau Alzheimer itu. Sebenarnya, Alzheimer itu lebih kepada penyakit genetic. Aku belum cek riwayat dari keluarga sebelumnya. Amit-amit deh yah, jangan terjadi. Udah itu aja ...

Syukurlah aku dipilih

Aku benar-benar nggak tahu apa itu kebahagiaan dalam artian yang sebenarnya. Setiap hari yang harus aku lalui adalah sindiran, omelan, dan nggak jarang makian dan bentakan, diumurku yang sudah kepala dua ini. Lucu, juga aneh. Makananku setiap hari yah air mata. Orang yang aku panggil papa dan mama selama hidup yang aku jalani, mempunyai dua orang anak, kakakku dan adikku. Aku? Aku hanya anak yang tidak benar-benar diinginkan untuk menjadi bagian dalam hidup mereka. Harusnya aku laki-laki, bukan perempuan. Kalau aku laki-laki, mereka tidak perlu punya tiga orang anak. Untunglah, adikku itu laki-laki dan kakakku perempuan. Jadi pas! Aku tidak yakin benar apakah aku diinginkan atau tidak. Tidak terlalu menjadi masalah. Aku tetap menghormati mereka sebagai orang yang sudah melahirkan dan membesarkan aku hingga saat ini. Semua biaya, waktu, dan tenaga yang mereka sudah berikan nggak bisa kubalas semua. Maafkanlah. Meskipun aku tidak diinginkan sekalipun, setidaknya aku bersyukur a...