Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label life story

Dunia dan Kamu

Akhir-akhir ini, dunia semakin kejam, tapi kau lebih kejam lagi. Singa yang ganas tidak memangsa anaknya, tapi kau bukan hanya memangsanya juga menyiksanya sebelum kau menyantapnya. Dunia memang semakin gila, tapi kau lebih gila lagi. Ayah memperkosa anak kandungnya, ibu membunuh darah dagingnya sendiri, pertengkaran saling merenggut nyawa karena harta dan tahta. Tapi kau lebih gila lagi! Dunia memang bengis, tapi kau lebih sadis lagi. Diktator memang pernah ada, saat ini pun juga. Caranya lebih halus. Penjajah memang sudah diusir, tapi rasa terjajah tetap ada. Koruptor memang banyak yang ditangkap, tapi tunas muda bakal koruptor tetap saja tumbuh. Kau lebih dari semua itu. Jangan, jangan tersinggung atau dendam. Ini bukan tentang siapa dan apa. Ini hanya tentang pelajaran hidup. Bumi masih memiliki gaya gravitasinya, masih berotasi pada sumbunya dan masih berevolusi mengelilingi matahari, masih menjadi planet yang diketahui paling layak dihuni. Mungkin semua...

Si Waktu

Kalau dulu punya rasa yang kaya nano-nano buat ditelaah, supaya bisa dipilah mana yang buruk dan nggak, mana yang perlu dipertahankan dan mana yang dibuang, sekarang rasanya, plongg … Actually , aku nggak bisa cerita secara langsung bukan karena aku nggak mau, tapi lebih kepada karena aku sendiri nggak tahu apa yang harus aku ceritakan. Bukan kosong atau hampa, tapi saking banyaknya hal yang terbelit di otakku (kayanya) jadinya terasa lepas semua. Ibarat kata, tanganku yang dua ingin banget memeluk erat sebatang pohon beringin yang jelas-jelas nggak akan ketemu lengan dengan lengan, tapi aku masih keukeh , masih usaha, barangkali saja bisa. And finally , aku sendiri terluka. Terus, aku berusaha manjat lagi pohonnya. Nggak peduli sama serat-serat kayu yang pada akhirnya menyusup masuk lewat kulit-kulit ari dan pori yang terbuka. Bahasanya kesusuban . Perih, sakit, dan mungkin saja tanpa aku sadari serat kayunya sudah menjalar mengikuti aliran darah dalam tubuhku. Itulah bahayany...

Masih Konsep Santai ala Mule

Sebenarnya masalah santai ga santai tiap orang agak-agaknya berbeda. Dan aku akan cerita mengenai santai ala Mule dalam kuliah. Jadi ceritanya pas matrikulasi bener-bener nggak mudeng ditambah berita-berita horror simpang-siur kalau nggak lulus matrikulasi bakal dipertimbangkan lanjut kuliah atau nggak. Mana bisa santai kan?! Masalahnya, aku kuliah bukan buat aku sendiri. Kalau aku gagal, aku membuat 20 orang lainnya gagal juga, bukan cuma merasa. Memang, kelihatannya seolah-olah keputusan buat maju atau nggak di tangan aku, tapi manusia berencana, Tuhan-lah yang berkehendak mewujudkannya. Santai itu saat kita udah merasa settle, atau bahasa industrinya (teknik) steady state, stabil gitu. Nah, penyesuaian selama sebulan dan melihat huru-hara yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi, membuat aku jadi bisa memikirkan dua sampai tiga langkah ke depan…nggak ding, keren bener. Selangkah ke depan aja dulu. Barangkali ada kotoran di depan, makanya harus perhatikan satu la...

4 Jam

Semua terjadi begitu saja… Tiba-tiba kenalan berawal dari menanyakan soal, lanjut belajar barsama sampai nongkrong di kedai kopi. Oh, jadi gini nih kegiatan per FTV-an yang berlangsung? Orang itu sederhana. Ada yang unik, tapi susah dijelaskan. Kami terdampar pada pertokoan elektronik tradisional dan aku tidak bisa menawar. Keribetan bukan jalan yang mau aku ambil dan alhasil, harusnya harga yang lebih murah bisa dicapai, kalau saja aku mau sedikit bersabar dan membiarkan orang itu menawarkan harga untukku atau berjalan ke toko lain. Penyesalan? Buat apa? Kami menikmati waktu untuk berjalan di bawah terik matahari yang memelototi kami seolah tidak mau sinarnya tersaingi. Lalu di sini, pantat kami dimanjakan oleh bantalan sofa tanpa sandaran yang empuk sementara lidah kami digoyang oleh manis-pahitnya kopi Vietnam tanpa racun sianida. Beginikah seseorang menikmati waktu dengan menghabiskan berjam-jam hidup mereka dalam kedai kopi? Satu-dua-tiga. Aku menghitung dalam hati sambi...

Standar yang Lebih Tinggi

Standar yang Lebih Tinggi Ini mengenai standar yang diberikan orang lain kepada kita, dimana ketika orang lain berekspektasi terlalu tinggi mengenai diri kita, hal yang harus kita lakukan adalah…membuat standar yang lebih tinggi lagi dari ekspektasi tersebut. Pengalaman ini bukan satu-dua kali aku alami, tapi sepanjang sejarah aku hidup, nilai yang harus aku capai bukan lagi di angka rata-rata, tapi di atas rata-rata kebanyakan orang. Usia muda, fisik yang terbatas, bukan menjadi suatu alasan, sebab segala fasilitas dan dukungan moral maupun riil sudah diberikan, sisanya aku hanya harus berharap sambil berusaha semaksimal mungkin. Jadi begini, ketika kuliah dulu aku harus mendapat nilai minimal A, aku bukan sekedar mencapai standar itu, aku harus lebih, A+ yang harus aku berikan, karena nilai itu bukan melulu soal angka dan huruf di atas selembar kertas, atau tertuang dalam ijazah dengan predikat cumlaude , bukan itu. Nilai + yang diberikan harus diikuti dengan nilai hid...

Medan Perang I dan II

Walaupun aku ini seorang pemimpin, tapi diatasku ada lagi orang yang memimpin aku. Walaupun aku ini seorang rakyat jelata, pastilah ada yang memimpin aku #eh. Kali ini aku mau membahas bagaimana ketika aku menjadi rakyat jelata, ini bukan karena aku turun pangkat, tapi karena aku diutus buat menyamar. Gilss… Dua kali sudah aku ditempatkan di dua area medan perang yang berbeda. Tempat pertama. Ditempat ini aku menyamar sebagai seorang yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara. Adalah seorang laki-laki yang kita inisialkan AT. Satu kesalahan bapak AT ini adalah terlalu percaya sama aku karena dia memiliki ekspektasi sangat tinggi, terlalu tinggi. Padahal sebagai kaum pendatang baru, dimana umurku yang masih belia, dan less experiences , aku ini apa atuh , tapi diberi posisi buat ngatur ini itu, dan memberi masukan yang kemudian hampir 90% diterima dan dijalankan. At least , nggak mental 100% mentah-mentah, sedih amet . Alhasil, apa? Tentu saja taktik ‘jatuh-menjatuhk...