Langsung ke konten utama

IRI


IRI
Mungkin satu kata yang seringkali orang-orang rasakan kalau lihat orang lain yang lebih oke dari keadaan diri sendiri.
Aku juga begitu kok.
Sering banget malah.
Ngebayangin dulu tuh bisa deket sama dia, bisa ngobrol sama dia, bisa ketawa atau denger jayusan dia. Terus sekarang mesti jauhan, ketemuan jarang, ngobrol jarang banget, sms aja singkat dan harus yang penting!!! BANGET!
Iri lihat orang-orang yang bisa deket sama dia sekarang dan dalam hati cuma bisa bilang, “Ih enak yah.”
Sekarang seringnya cuma nangis-nangis nggak jelas pas bayangin dulu itu begini, dulu tuh begitu, dulu nggak begini, dulu nggak begitu.
Tapi cuma bisa diem dan tatap-tatapan pas ketemu, nggak tahu mau ngomong apa. Topiknya cuma, “Gimana kuliahnya?”, “Jangan lupa makan.”, “Belajar yang rajin.”, “Berdoalah.”
Seneng tapi sedih, gimana yah bilangnya. Labil? Masa iya udah se-tua ini masih sering galau.
Sms dia dan bilang, “Aku galau, haha.”
Dan dia bales, “Jangan galau.”
Langsung keinget terus kata-katanya dan berasa nggak galau lagi, nggak boleh galau lagi!
Kangen, kangen banget. Sekangen kangennya tupai meloncat, lebih kangenan aku.
Pingin banget dengerin petikan gitar sambil dinyanyi-nyayiin, tralalala, bareng-bareng, atau sekedar dengerin cerita lucu yang sebenarnya udah tahu tapi kenapa yah seru kalau dia yang ceritain?
Kangen dan kangen. Pingin peluk.
Takut kalau kuliahku ini belum mencapai target oke. Takut buat kecewa BAPA, takut buat kecewa orang-orang.
Dan rasa iri itu harus ditepis dulu kalau inget kata-kata, “Segala sesuatu ada waktunya.”
Yep! Aku mesti sabar dan mensyukuri apa yang ada saat ini, toh semua demi kebaikan aku, toh semua buat BAPA-ku.
Adios.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Si Pita Hijau, Kuning, dan Merah

Ini pengalaman ospek yang lucu, menggemaskan sekaligus menyebalkan. Pasalnya, aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Ini terjadi pagi hari saat hari pertama OKK, ospek untuk Universitas di Depok berlangsung. Jam 7 pagi kami semua harus berkumpul, tapi aku dan teman-temanku malah berjalan santai berlenggang kangkung bak putri solo yang memakai kebaya rapat jaman dahulu. Jadi pada intinya, kita jalannya santai aja padahal ada kakak senior berjakun yang jagain dan ternyata kita nggak boleh naik bikun(alat transport)ke balairung, tempat berkumpul dan acara berlangsung. Otomatis, kita mesti lari-larian dari teknik melewati ekonomi, melewati jalan diantara FIB dan FISIP. Ngos, ngos. Pemeriksaan. Cek list, pass... Jalan santai lagi sambil menikmati hawa sejuk yang agak menusuk kulit tapi pemandangan hijaunya daun menyegarkan sekali. Kami seperti menganggap ini adalah jalan santai, jalan pagi bagi para manula untuk menghindari osteoporosis. Sementara, senior-senior berjakun sudah ber...

THE END

THE END. ADIOS.

Salam Perpisahan

Halo semua, ini mungkin jadi sapaan terakhir. Mohon maaf kalau terakhir hanya ada dua kata tanpa cuap-cuap perpisahan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis satu post lagi. Di post dua kata sebelumnya, aku memang berniat untuk menyudahi blog ini. Bukan berarti aku akan berhenti menulis. Tidak, tidak. Menulis adalah bagian hidupku yang tidak bisa kutinggalkan. Kalau ada anugerah Tuhan yang bisa aku miliki, menulis adalah satu-satunya hal yang aku tahu bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Mungkin (ini masih mungkin), aku akan membuat blog baru dengan nama baru. Aku sudah lama memikirkannya. Blog baru aku akan kuberi nama dengan anagram dari nama asliku. Blog baru-ku pastinya akan lebih membosankan dari blog ini. Jadi, bagi kamu-kamu yang sudah setia bersama blog ini, selama 9 tahun, terima kasih banyak. O yah, kenapa blog yang baru akan lebih membosankan? Karena isinya akan seputar opiniku mengenai politik dan SARA, pendidikan dan isu sosial di masyarakat, komentar kuli...