Langsung ke konten utama

Postingan

Salah Jurusan?

Seolah nggak ada tempat curhat, jadi aku nulis di sini. Sebenarnya mereka ada, hanya saja barang sepele seperti ini masa juga harus aku ceritakan secara verbal dengan menyita waktu in time mereka. Baiklah, sewaktu-waktu hal ini dibaca dan aku harap itu sudah berlalu. Aku awalnya semangat banget lanjut kuliah karena aku suka belajar dan explore  hal baru, tapi tentu aja kalau aku juga suka hal itu akan lebih mudah. Berawal dari Kimia MIPA di kampus menyandang nama Negri, aku akhirnya berlabuh pada kampus gajah bernama salah satu kota di negeri ini. Senang sekali rasanya dan beruntung, karena aku tahu dari tes masuk saja aku sebenarnya nggak compatible karena tanpa persiapan selayaknya seorang pejuang engineer , tapi toh atas berkat dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, my Lord Jesus , aku berhasil diterima dengan syarat khusus, syarat dimana aku harus berusaha dan belajar lebih ekstra dari mereka yang memang berlatar belakang teknik kimia. Seperti selintingan kabar yang ...

Setelah 3 Bulan

Sudah hampir 3 bulan nggak nulis, rasanya kangen banget. Maklum, kemarin sempat shocking event karena terancam nilai Termodinamika Lanjut berakhir dengan nilai E, jadi perhatian seluruhnya tersita dan tercurah pada belajar dan belajar, kitab kehidupan bagi per-termodinamika-an setebal 840 halaman dengan 16 bab, tapi ujiannya 14 bab. Semua itu harus dipelajari lebih detail (dalam kesempatan kedua untuk mengulang dan memperbaiki kesalahan yang terjadi) dalam kurun waktu 2 minggu sejak pengumuman mengenai kesempatan itu dibuka. Bisa dibayangkan betapa sadisnya, berkeringat dingin dan bersimbah air mata, ini beneran, nggak berlebihan. Karena aku salah satu peserta beasiswa, ada minimal IP yang harus aku capai kalau nggak mau mendapat surat peringatan yang berakibat aliran dana beasiswa berhenti. Nggak bisa dibayangkan karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hiks banget. Ditambah lagi permasalahan sosial yang melibatkan emosi. Nah, ini aku baru mau start up semangat buat cerita. ...

Dalam Bahtera

Aku sudah menyampaikannya, bahkan sudah kuserukan kuat-kuat. Suaraku sudah sampai kepada meraka, namun mereka tidak mau mendengar. Mereka mengabaikan, bukan suaraku, namun suaraMU. Mereka melupakan segenap taurat dan FirmanMU. Aku hanya takut, murkaMU menyala, dan tak terpadamkan… Jaman dahulu kala, sebuah sejarah dicatat, agar bangsa berikutnya dapat belajar. Katanya, sejarah itu adalah guru paling manjur, karena kita bisa belajar sejarah, which is pengalaman dari hal yang sudah lampau. Kita, mungkin, bisa tahu bagaimana meraih kesuksesan dengan menggunakan taktik di jaman keemasan suatu kerajaan dan menghindari kesalahan yang sama pada saat keruntuhan suatu kerajaan. Tapi tampaknya, minat membaca orang-orang jaman ini sudah berkurang. Mereka lebih suka menonton sinetron, telenovela, FTV, atau drama-drama serial yang ceritanya monoton, akhirnya mudah ditebak, dan menyajikan kebohongan-kebohongan dalam rangkaian kisah fiktif yang mungkin hanya bisa terjadi di dunia nyata sebesar...

Aku mengagumiNYA!

Karena aku nggak tahu seberapa lama lagi aku bisa hidup di dunia dan berada dekat dengan orang-orang yang aku kasihi ini. Seberapa besar bekas yang udah aku tinggalkan? Apakah itu membantu atau menyusahkan? Apakah hal yang bersisa positif atau negative? Bukan karena aku seolah akan segera meninggalkan dunia ini…walau tak ada yang tahu mengenai waktuNYA, tapi… Aku hanya mau menyebarkan keceriaan selama yang aku bisa, seluas jangkauanku. Dulu mungkin aku sensi banget, sampai orang juga males deket karena takut. Pikiran juga negative dan banyak hal yang aku khawatirkan, mudah panik dan nggak santai. Daddy bilang, kalau aku di Bandung, banyak hal yang aku pelajari, belum lagi akan ada sesuatu yang pasti terjadi, entah apa. Di sini aku banyak belajar bagaimana memperhatikan secukupnya, tidak mengekang atau membuat sesuatu tidak nyaman. Terakhir pulang ke Jakarta bulan lalu dan aku dilanda kecemburuan sangat pada siapa pun di sana. Pada kenyataannya, tidak ada keadaan yang ...

Menjalankan Fungsinya Hingga Akhir

Ia yang tidak terlalu terpandang tapi sangat berguna Mengikuti langkahku kemana pun aku pergi Walau kadang ia tinggal saja di rumah Menjaga tempat petidurannya dalam diam dan hening Ia tak pernah mengeluh melewati lumpur Menghantam kerasnya aspal Atau jalan mendaki dan berbatu Ia tetap diam tanpa keluhan Aku salut bahwa ia tetap menampilkan warnanya Cerah Bahkan ketika ia kehilangan setengah dari bagian dirinya Ia tetap bekerja sesuai fungsinya Sepatuku cantik sepatuku malang Ia tetap kupakai meski alasnya sudah hilang ADIOS.

Judul: Sesukamu

Aku habis nonton film A long visit my mom , film korea yang dari judulnya aja sudah greget-greget berbau tangisan nih. Mantjap, lanjutkan. Film Korea Malam Ini Menguras Emosi! Pas nonton di 10 menit awal aja, air mata aku ngocor . Setengah jam kemudian, berlembar-lembar tisu sudah habis dipakai. Oke, ini nggak lebay, ini fakta. Di sela tangisku yang super heboh, sebenarnya aku lagi pingin banget nangis. Aneh yah? Tiba-tiba ada alasan aku bisa nangis bombay tanpa perlu kasih alasan lainnya karena aku bisa berdalih bahwa filmnya sedih. Dua minggu belakangan ini, rasanya ada hal yang mengganjal. Nggak tahu apa. Tertawa di kampus, senyum bak putri seolah sedang T-P-T-P, dan ngobrol dalam candaan…sejenak mengalihkan perasaan nggak enak ini, tapi nggak benar-benar mengusirnya. Ada rasa kangen, entah pada siapa. Benar, tidak ada satu subjek khusus. Aku hanya rindu pada sesuatu yang seolah sudah lama kukenal tapi kini berjarak, rindu pada kondisi yang begitu kompleks tapi sebena...

Satu Ginjal Cukup

Hari ini aku jogging pagi. Niatnya biar sehat, kurusin badan, akhirnya malah bikin badan sakit dan makin gemuk karena makan tambah banyak, tapi topic malam ini bukan itu. Eh, udah subuh deh, bukan malam lagi. Jadi karena tempat olahraganya asik, pemandangannya bagus, dan ini putaran ke-11 sehingga aku jalan dengan langkah lambat, aku menikmati pemandangannya dulu. Pohon yang hijau, tanah yang coklat-setengah kering setengah berlumpur-, langit yang biru dan berganti kelabu, awan yang putih bergumpal di satu sisi dan menyisakan kecerahan di sisi lainnya, angin yang semilir membawa bau rumput yang disiram embun pagi, udara yang sejuk namun juga hangat di saat yang bersamaan dengan sinar matahari pagi yang menerpa, sejauh mata memandang ada gunung yang seolah menembus kelangit karena puncaknya disembunyikan awan, dan beberapa gedung tinggi. Wajah-wajah para pelari lain yang riang walau dipenuhi peluh, derap langkah kaki berlari yang berirama –cepat dan lambat-, atau sekedar obrolan r...