Langsung ke konten utama

Postingan

Dalam Bahtera

Aku sudah menyampaikannya, bahkan sudah kuserukan kuat-kuat. Suaraku sudah sampai kepada meraka, namun mereka tidak mau mendengar. Mereka mengabaikan, bukan suaraku, namun suaraMU. Mereka melupakan segenap taurat dan FirmanMU. Aku hanya takut, murkaMU menyala, dan tak terpadamkan… Jaman dahulu kala, sebuah sejarah dicatat, agar bangsa berikutnya dapat belajar. Katanya, sejarah itu adalah guru paling manjur, karena kita bisa belajar sejarah, which is pengalaman dari hal yang sudah lampau. Kita, mungkin, bisa tahu bagaimana meraih kesuksesan dengan menggunakan taktik di jaman keemasan suatu kerajaan dan menghindari kesalahan yang sama pada saat keruntuhan suatu kerajaan. Tapi tampaknya, minat membaca orang-orang jaman ini sudah berkurang. Mereka lebih suka menonton sinetron, telenovela, FTV, atau drama-drama serial yang ceritanya monoton, akhirnya mudah ditebak, dan menyajikan kebohongan-kebohongan dalam rangkaian kisah fiktif yang mungkin hanya bisa terjadi di dunia nyata sebesar...

Aku mengagumiNYA!

Karena aku nggak tahu seberapa lama lagi aku bisa hidup di dunia dan berada dekat dengan orang-orang yang aku kasihi ini. Seberapa besar bekas yang udah aku tinggalkan? Apakah itu membantu atau menyusahkan? Apakah hal yang bersisa positif atau negative? Bukan karena aku seolah akan segera meninggalkan dunia ini…walau tak ada yang tahu mengenai waktuNYA, tapi… Aku hanya mau menyebarkan keceriaan selama yang aku bisa, seluas jangkauanku. Dulu mungkin aku sensi banget, sampai orang juga males deket karena takut. Pikiran juga negative dan banyak hal yang aku khawatirkan, mudah panik dan nggak santai. Daddy bilang, kalau aku di Bandung, banyak hal yang aku pelajari, belum lagi akan ada sesuatu yang pasti terjadi, entah apa. Di sini aku banyak belajar bagaimana memperhatikan secukupnya, tidak mengekang atau membuat sesuatu tidak nyaman. Terakhir pulang ke Jakarta bulan lalu dan aku dilanda kecemburuan sangat pada siapa pun di sana. Pada kenyataannya, tidak ada keadaan yang ...

Menjalankan Fungsinya Hingga Akhir

Ia yang tidak terlalu terpandang tapi sangat berguna Mengikuti langkahku kemana pun aku pergi Walau kadang ia tinggal saja di rumah Menjaga tempat petidurannya dalam diam dan hening Ia tak pernah mengeluh melewati lumpur Menghantam kerasnya aspal Atau jalan mendaki dan berbatu Ia tetap diam tanpa keluhan Aku salut bahwa ia tetap menampilkan warnanya Cerah Bahkan ketika ia kehilangan setengah dari bagian dirinya Ia tetap bekerja sesuai fungsinya Sepatuku cantik sepatuku malang Ia tetap kupakai meski alasnya sudah hilang ADIOS.

Judul: Sesukamu

Aku habis nonton film A long visit my mom , film korea yang dari judulnya aja sudah greget-greget berbau tangisan nih. Mantjap, lanjutkan. Film Korea Malam Ini Menguras Emosi! Pas nonton di 10 menit awal aja, air mata aku ngocor . Setengah jam kemudian, berlembar-lembar tisu sudah habis dipakai. Oke, ini nggak lebay, ini fakta. Di sela tangisku yang super heboh, sebenarnya aku lagi pingin banget nangis. Aneh yah? Tiba-tiba ada alasan aku bisa nangis bombay tanpa perlu kasih alasan lainnya karena aku bisa berdalih bahwa filmnya sedih. Dua minggu belakangan ini, rasanya ada hal yang mengganjal. Nggak tahu apa. Tertawa di kampus, senyum bak putri seolah sedang T-P-T-P, dan ngobrol dalam candaan…sejenak mengalihkan perasaan nggak enak ini, tapi nggak benar-benar mengusirnya. Ada rasa kangen, entah pada siapa. Benar, tidak ada satu subjek khusus. Aku hanya rindu pada sesuatu yang seolah sudah lama kukenal tapi kini berjarak, rindu pada kondisi yang begitu kompleks tapi sebena...

Satu Ginjal Cukup

Hari ini aku jogging pagi. Niatnya biar sehat, kurusin badan, akhirnya malah bikin badan sakit dan makin gemuk karena makan tambah banyak, tapi topic malam ini bukan itu. Eh, udah subuh deh, bukan malam lagi. Jadi karena tempat olahraganya asik, pemandangannya bagus, dan ini putaran ke-11 sehingga aku jalan dengan langkah lambat, aku menikmati pemandangannya dulu. Pohon yang hijau, tanah yang coklat-setengah kering setengah berlumpur-, langit yang biru dan berganti kelabu, awan yang putih bergumpal di satu sisi dan menyisakan kecerahan di sisi lainnya, angin yang semilir membawa bau rumput yang disiram embun pagi, udara yang sejuk namun juga hangat di saat yang bersamaan dengan sinar matahari pagi yang menerpa, sejauh mata memandang ada gunung yang seolah menembus kelangit karena puncaknya disembunyikan awan, dan beberapa gedung tinggi. Wajah-wajah para pelari lain yang riang walau dipenuhi peluh, derap langkah kaki berlari yang berirama –cepat dan lambat-, atau sekedar obrolan r...

Malam Bermaaf-maafan

Ini bisa jadi permintaan maafku yang kesekian kalinya… Kamu pasti lagi nggak ada kerjaan, punya banyak waktu lowong yang bisa digunakan sehingga bisa membaca post ini yang isinya cuma seputar aku dan hidupku… Sementara aku juga punya banyak waktu lowong yang sengaja aku sediakan hanya untuk menulis barang satu sampai dua post sebelum menghilang beberapa hari hingga minggu untuk kemudian menulis lagi. Whatever it takes , aku mau bilang maaf kepada siapapun yang aku kecewakan, lukai, dan sakiti. Kemungkinan terbesar karena aku nggak sadar saat melakukannya, atau nggak sadar itu sudah mencapai level dimana orang lain nggak nyaman. Dulu, aku orang yang over care yang jatohnya jadi kepo ngurusin urusan orang lain dan ini nggak baik buat kedua pihak, somehow . Akhirnya, aku memutuskan untuk mengekang diri aku untuk mencampuri permasalahan orang lain dan mencoba menjadi pendengar yang baik. Kadang, orang hanya butuh didengar tanpa perlu solusi apa-apa karena belum tentu solusin...

Karena Martabak Begitu Enak

Kembali lagi di malam yang dingin dan…aneh. Aku sedang merapihkan catatan dan tiba-tiba ingin martabak. Biasanya hampir tiap minggu, di kota kelahiranku, aku akan menyantap martabak bersama keluarga. Martabak adalah camilan di malam hari yang enak dan tidak perlu berpikir panjang bahwa makanan ini akan menyebabkan berat badan bertambah. Seluruh anggota keluargaku suka dengan martabak. Malam ini ketika hujan rintik-rintik tidak stabil, kadang ada kadang lenyap, menyisakan udara dingin dan bau tanah, udara yang sumpek, walau lama-kelamaan digantikan dengan udara yang lembab dan dingin, aku mau martabak. Hanya sekedar mengungkapkan, kali ini berhubung aku sedang tidak perlu mengkhawatirkan si jabang bayi akan ngiler kalau ngidam tidak dipenuhi, jadi benar-benar hanya berkata, “Mau.” Titik. Tak dinyana, seseorang membawakan martabak. Di saat pengantar berbayar dipesan lewat online tidak ada yang mau menerima tawaran ini, orang itu mau. Sebut saja mas MM. lagi-lagi…harusnya aku...