Langsung ke konten utama

Pemutusan Secara Sepihak


Aku nggak tahu apa salah aku sampai kamu tega mutusin secara sepihak hubungan ini.
Waktu pertama kali aku minta nomor kamu, kamu seneng-seneng aja, malah kamu yang misscalled duluan, dan aku tahu kamu berharap banget aku sms.
Aku cuma minta kamu kok buat jemput aku dari Depok ke Jakarta dan anterin aku balik dari Jakarta ke Depok.
Satu dua kali, kamu mau. Bahkan kamu yang bilang, “Tunggu saya.” Alhasil, aku nungguin kamu dari jam 3 sore sampai jam 6 malem. Tapi aku nggak marah walau udah lama banget nunggunya. Akhirnya, bisa juga aku dianter pulang.
Waktu aku sms kamu, kamu nggak bales. Waktu aku telepon, kamu nggak angkat. Akhirnya, aku telepon temen kamu karena panik kamu nggak dateng-dateng. Akhirnya, temen kamu yang mesti jemput aku buat balik ke Depok.
Setelah beberapa minggu, ternyata nomor kamu malah nggak bisa dihubungi sekarang. Dan temen kamu itu, juga nggak bisa dihubungin. Apa-apaan ini?
Aku salah apa?
Aku nggak komentar waktu kamu ngebut di jalan, nggak teriak bilang takut kalau kamu nembus pembatas busway, juga nggak marah waktu kamu minta uang, dari 7ribu jadi 8ribu, aku ikhlas.
Untuk sementara, aku nggak nunggu kamu dulu yah, aku bareng sama yang lain yang duluan bisa anter aku ke Jakarta sampai kamu nggak marah lagi sama aku.
Ya udah, itu aja pesen aku.
Buat Mas Danny dengan Debora-nya.
Dari Penumpangmu yang paling okeh.

ADIOS.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Si Pita Hijau, Kuning, dan Merah

Ini pengalaman ospek yang lucu, menggemaskan sekaligus menyebalkan. Pasalnya, aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Ini terjadi pagi hari saat hari pertama OKK, ospek untuk Universitas di Depok berlangsung. Jam 7 pagi kami semua harus berkumpul, tapi aku dan teman-temanku malah berjalan santai berlenggang kangkung bak putri solo yang memakai kebaya rapat jaman dahulu. Jadi pada intinya, kita jalannya santai aja padahal ada kakak senior berjakun yang jagain dan ternyata kita nggak boleh naik bikun(alat transport)ke balairung, tempat berkumpul dan acara berlangsung. Otomatis, kita mesti lari-larian dari teknik melewati ekonomi, melewati jalan diantara FIB dan FISIP. Ngos, ngos. Pemeriksaan. Cek list, pass... Jalan santai lagi sambil menikmati hawa sejuk yang agak menusuk kulit tapi pemandangan hijaunya daun menyegarkan sekali. Kami seperti menganggap ini adalah jalan santai, jalan pagi bagi para manula untuk menghindari osteoporosis. Sementara, senior-senior berjakun sudah ber...

THE END

THE END. ADIOS.

Salam Perpisahan

Halo semua, ini mungkin jadi sapaan terakhir. Mohon maaf kalau terakhir hanya ada dua kata tanpa cuap-cuap perpisahan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis satu post lagi. Di post dua kata sebelumnya, aku memang berniat untuk menyudahi blog ini. Bukan berarti aku akan berhenti menulis. Tidak, tidak. Menulis adalah bagian hidupku yang tidak bisa kutinggalkan. Kalau ada anugerah Tuhan yang bisa aku miliki, menulis adalah satu-satunya hal yang aku tahu bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Mungkin (ini masih mungkin), aku akan membuat blog baru dengan nama baru. Aku sudah lama memikirkannya. Blog baru aku akan kuberi nama dengan anagram dari nama asliku. Blog baru-ku pastinya akan lebih membosankan dari blog ini. Jadi, bagi kamu-kamu yang sudah setia bersama blog ini, selama 9 tahun, terima kasih banyak. O yah, kenapa blog yang baru akan lebih membosankan? Karena isinya akan seputar opiniku mengenai politik dan SARA, pendidikan dan isu sosial di masyarakat, komentar kuli...