Langsung ke konten utama

Postingan

Trauma 76

Entah dari awal semester 1 itu yang pernah aku cerita tentang nilai kimia yang dapet 76 adalah sebuah kisah yang teringat jelas. Lain halnya dengan cerita yang kali ini. Ini mengenai ulangan logika matematika semester 4 yang gurunya adalah Pak Danu Wardoyo, guru kekar, ganteng, kece, nan oke. Dia itu adalah PA aku selama aku SMA, selama 3 tahun. Emang sih nggak terlalu banyak interaksi. Sms-an aja nggak pernah, pernahnya telepon, itupun ngijin karena nggak masuk. Ada banyak cerita tentang dia dan yang paling heboh adalah kasus di semester 5 dan 6 ketika detik-detik kelulusan. Tapi yang mau dibahas di sini bukan itu. Yang aku suka dari Pak Danu adalah dia guru yang objektif tapi tetap aja, punya perasaan yang baik. Jadi begini ceritanya... Waktu itu pas lagi ujian matematika, tentang logika matematika. Tentang mengingkari ingkaran, dan, atau, semua, tidak semua, tentang ya dan ya adalah ya, tentang tidak dan ya adalah tidak, tentang benar, benar, benar, tentang salah benar sal...

Terserah

Jawaban, “Terserah” itu merupakan jawaban yang hampir-hampir sama sekali tidak aku sukai. “Terserah kamu.” “Terserah.” “Terserah.” Dan “Terserah.” Jawaban singkat itu mengartikan bahwa kamu malas berpikir, malas untuk bersusah-susah menemukan jawaban yang tepat dengan segala resiko dan konsekuensi yang harus ditanggung. Jawaban “Terserah” itu kerap kali terucap sangat cepat dan jelas. “Kalau aku, lebih bagus pakai baju ini atau itu?” “Terserah.” “Aku ikut acara itu atau nggak?” “Terserah.” “Aku boleh beli barang yang ini?” “Terserah.” “Mau makan apa?” “Terserah.” “Habis ini mau ngapain?” “Terserah.” Jawaban itu menjadi lebih buruk ketika diucapkan oleh seorang laki-laki. Pasalnya, kalau laki-laki dipandang sebagai sosok yang tegas dan akan menjadi pemimpin nantinya, entah itu dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam pemerintahan, seharusnya ketegasan, cepat tepat tangkas dalam menjawab dan memberi keputusan adalah hal yang harus dimiliki seorang pria, b...

Ketika Kamu Marah

Mungkin aku akan tutup telinga kalau denger orang marah-marah, pura-pura tak dengar, terlihat seperti orang tuli,atau kuhitung sampai tiga, kalau tidak berhenti, akan aku tinggal. Bukan karena apa-apa, hanya saja gangguan pada telinga yang sensitivitasnya seperti itu, membuat pekak telinga aku kalau mendengar nada-nada tak keruan, lengkingan tinggi, atau traumatis pada suara-suara keras. Pasalnya pernah ada riwayat ketidaksehatan telinga di rumah sakit. Tapi entah mengapa, untuk orang yang satu ini, jangankan melihat dia marah langsung, membayangkan dia marah saja, aku sudah sedih. Kukatakan ini jujur dari hati. Aku ingat bagaimana dia akan berkata dengan desahan kecil dan suaranya yang berat, terdengar kelelahan, “Aku capek Le.” Peluhnya mengalir dan urat-urat kepalanya akan menonjol dengan jelas ketika ia marah. Mukanya yang sudah lelah, berwarna kecoklatan itu, dengan mata yang sudah sayu, namun tak terlelap...Aku bahkan seperti bisa merasakan bagaimana tekanan hembusan n...

Pipi Kempot

Kisah ini terinspirasi dari kata-kata seseorang, “Kalau sudah tua nanti dan pipi saya sudah kempot, saya mau saya dan istri saya saling berciuman. Saya sangat bertanya-tanya bagaimana rasanya!” Jadi, karena statement itu, aku jadi berimajinasi. Aku juga mau suatu saat nanti ciuman sama suami kalau udah pipinya kempot, giginya ompong semua, ketika rambut warnanya putih semua karena uban. Jadi ngebayangin bahwa saat tua nanti, ketika udah jompo, jalannya udah kepayahan, tapi kita masih jalan gandengan berdua, sebagai suami istri... so sweet. Pernah lihat waktu di kereta, pasangan tante-om yang sudah paruh baya, masih gandengan duduk berdua di kereta yang tidak terlalu padat. Masih ngobrol mesra dan betapa sang suami melihat istrinya penuh cinta. Saling melempar senyum... Dibandingkan... Pernah ada pasangan suami istri muda jalan di mall, yang ada mereka berantem di depan khayalak ramai sambil narik-narik putri kecilnya yang kebingungan apa yang sedang terjadi antara mama ...

Kadang

Kadang Kenyataan memang begitu Ada kata yang tak bisa seutuhnya bisa terucap Ada hasrat yang tak sepenuhnya bisa disampaikan Ada kisah yang tak sesempurna itu untuk dinikmati Kadang Kenyataan memang begitu Tidak semua peristiwa semanis madu Atau segala hal sepahit empedu Juga tak semasam anggur Kadang Kenyataan memang begitu Ketika kita harus berharap sekalipun tak ada harapan Ketika harus berjuang meskipun sudah habis tenaga Ketika tetap bertahan walau raga sudah tak lagi mampu Kadang Kenyataan memang begitu Kisah diantara kita cuma kita yang tahu Momen yang sudah lalu bukan untuk dilupakan dan Cerita antara kamu dan aku tidak akan pernah berakhir ADIOS

Orang Ini

Ada beberapa hal yang setidaknya bisa aku contoh dari orang ini. Walau hanya dari pengalaman pribadi dan sepengamatan aku artinya apa yang aku ingat (agak diragukan berhubung ingatan aku yang ...), yah jadi kesimpulan mini tentang orang itu. Gimana yah bilangnya. Orang itu tampak biasa, seringkali diacuhkan, bahkan seringkali diremehkan atau menjadi bulan-bulanan teman sejawatnya. Mungkin karena mukanya yang ‘lempeng’ (meminjam salah satu istilah senior) jadi dipandang mudah di’bully’. Tapi dia tulus... Dia nggak ngeluh kalau ada yang marahin. Jarang banget mukanya kusem. Palingan diem. Kalau kondisinya udah akut. Dia itu entah kenapa sabar banget. Mungkin udah terbiasa pasrah. Entah kenapa, juga jarang mengeluh, atau pernah tapi aku nggak inget kapan, berarti jarang-lah yah. Selalu aja senyum-senyum jelek gitu, nggak deh cakep. Soalnya senyum itu lebih bagus daripada mesem-mesem nggak jelas. Orang ini, entah jenis langka yang akan ditemukan sejuta tahun lagi. Pokoknya, ...

Parameter Menyebalkan (Subjektif)

Oke, aku akan buka rahasia ada yang dimaksud menyebalkan versi aku. Menyebalkan itu adalah ketika: 1.        Ngarep di hubungi tapi nggak dihubungi juga (BBM/SMS/Telepon) 2.        BBM dibalesnya lama banget 3.        BBM uda di read -nya lama, nggak dibales 4.        Disuruh nunggu lama-lama 5.        Udah BBM/SMS panjang lebar, balesnya singkat 6.        BBM cuma delivered sampai berhari-hari 7.        SMS nggak dibales (penting nggak penting) 8.        Janjian tapi tiba-tiba batal 9.        Diburu-buruin 10.    Memberi info yang nggak jelas pas ditanya 11.    Dicuekin 12.    Mengulangi kesalahan yang sama padahal udah minta maaf 13.    Dilupain (de...