Langsung ke konten utama

Kita Pernah



Kita pernah
Mencoba memilin nasib menjadi satu
Tidak takut pada tantangan badai
Mencoba mengadu dengan waktu

Kita pernah
Mencoba untuk berharap
Dalam kacamata kita yang sempit
Mencoba menanamkan nilai luhur

Kita pernah
Mencoba memutar balik keadaan
Tidak menerima fakta yang nyata
Mencoba berlari di jalan tak berujung

Kita pernah
Mencoba berusaha sekuat tenaga
Melepaskan diri dari jerat palsu
Mencoba mengampuni dan menginsafi

Kita pernah
Mencoba tertawa dibalik tangisan
Mengobati luka dan duka
Mencoba menguatkan satu sama lain

Kita pernah
Mencoba berjalan bertelanjang kaki
Tidak takut kerikil tajam yang menusuk
Mencoba menapaki nestapa

Kita pernah
Mencoba mengambil jalur
Yang dianggap bodoh bagi dunia
Mencoba mengerti apa arti hidup

Kita pernah
Mencoba sekali lagi
Untuk bertahan pada ketidakpastian
Mencoba berjuang untuk terakhir kalinya


ADIOS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Si Pita Hijau, Kuning, dan Merah

Ini pengalaman ospek yang lucu, menggemaskan sekaligus menyebalkan. Pasalnya, aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Ini terjadi pagi hari saat hari pertama OKK, ospek untuk Universitas di Depok berlangsung. Jam 7 pagi kami semua harus berkumpul, tapi aku dan teman-temanku malah berjalan santai berlenggang kangkung bak putri solo yang memakai kebaya rapat jaman dahulu. Jadi pada intinya, kita jalannya santai aja padahal ada kakak senior berjakun yang jagain dan ternyata kita nggak boleh naik bikun(alat transport)ke balairung, tempat berkumpul dan acara berlangsung. Otomatis, kita mesti lari-larian dari teknik melewati ekonomi, melewati jalan diantara FIB dan FISIP. Ngos, ngos. Pemeriksaan. Cek list, pass... Jalan santai lagi sambil menikmati hawa sejuk yang agak menusuk kulit tapi pemandangan hijaunya daun menyegarkan sekali. Kami seperti menganggap ini adalah jalan santai, jalan pagi bagi para manula untuk menghindari osteoporosis. Sementara, senior-senior berjakun sudah ber...

THE END

THE END. ADIOS.

Salam Perpisahan

Halo semua, ini mungkin jadi sapaan terakhir. Mohon maaf kalau terakhir hanya ada dua kata tanpa cuap-cuap perpisahan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis satu post lagi. Di post dua kata sebelumnya, aku memang berniat untuk menyudahi blog ini. Bukan berarti aku akan berhenti menulis. Tidak, tidak. Menulis adalah bagian hidupku yang tidak bisa kutinggalkan. Kalau ada anugerah Tuhan yang bisa aku miliki, menulis adalah satu-satunya hal yang aku tahu bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Mungkin (ini masih mungkin), aku akan membuat blog baru dengan nama baru. Aku sudah lama memikirkannya. Blog baru aku akan kuberi nama dengan anagram dari nama asliku. Blog baru-ku pastinya akan lebih membosankan dari blog ini. Jadi, bagi kamu-kamu yang sudah setia bersama blog ini, selama 9 tahun, terima kasih banyak. O yah, kenapa blog yang baru akan lebih membosankan? Karena isinya akan seputar opiniku mengenai politik dan SARA, pendidikan dan isu sosial di masyarakat, komentar kuli...