Langsung ke konten utama

Tuli

Aku menatap aku dalam diriku yang diam dan membisu
Tiada kata yang sanggup getarkan setiap hati yang sudah membeku
Menatap ke dalam bola mata yang sudah kaku
Lagi, mungkin mulutku sudah gagu

Bisa jadi tidak ada lagi harmonisasi diantara mata dan bibir
Karena kerap kali mata melihat kata-kata mencibir
Dan tiap pribadi yang tidak terelak untuk merasa tersindir
Hingga tiap mata bertemu mata hanya ada getir

Dimana ditemukan kembali jendela hati
Ketika terdengar pekikan yang merintih
Setiap dibalik pintu tiap malam hanya menanti
Dimana akhirnya dapat kutemui pribadi yang sejati

Dalam tiap-tiap raut yang terpandang
Tak ada lagi nada-nada mesra disenandung
Mungkin langit-langit yang sudah mendung
Menambah raut-raut wajah menjadi murung

Akankah hari demi hari masih bisa dijalani
Ketika hidup serasa terbelit lilit tanpa ditemani
Bisakah ada hari yang mampu dikatakan hari ini
Tuk bebas lepas setitik saja kemerdekaan badani

ADIOS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Si Pita Hijau, Kuning, dan Merah

Ini pengalaman ospek yang lucu, menggemaskan sekaligus menyebalkan. Pasalnya, aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Ini terjadi pagi hari saat hari pertama OKK, ospek untuk Universitas di Depok berlangsung. Jam 7 pagi kami semua harus berkumpul, tapi aku dan teman-temanku malah berjalan santai berlenggang kangkung bak putri solo yang memakai kebaya rapat jaman dahulu. Jadi pada intinya, kita jalannya santai aja padahal ada kakak senior berjakun yang jagain dan ternyata kita nggak boleh naik bikun(alat transport)ke balairung, tempat berkumpul dan acara berlangsung. Otomatis, kita mesti lari-larian dari teknik melewati ekonomi, melewati jalan diantara FIB dan FISIP. Ngos, ngos. Pemeriksaan. Cek list, pass... Jalan santai lagi sambil menikmati hawa sejuk yang agak menusuk kulit tapi pemandangan hijaunya daun menyegarkan sekali. Kami seperti menganggap ini adalah jalan santai, jalan pagi bagi para manula untuk menghindari osteoporosis. Sementara, senior-senior berjakun sudah ber...

THE END

THE END. ADIOS.

Salam Perpisahan

Halo semua, ini mungkin jadi sapaan terakhir. Mohon maaf kalau terakhir hanya ada dua kata tanpa cuap-cuap perpisahan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis satu post lagi. Di post dua kata sebelumnya, aku memang berniat untuk menyudahi blog ini. Bukan berarti aku akan berhenti menulis. Tidak, tidak. Menulis adalah bagian hidupku yang tidak bisa kutinggalkan. Kalau ada anugerah Tuhan yang bisa aku miliki, menulis adalah satu-satunya hal yang aku tahu bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Mungkin (ini masih mungkin), aku akan membuat blog baru dengan nama baru. Aku sudah lama memikirkannya. Blog baru aku akan kuberi nama dengan anagram dari nama asliku. Blog baru-ku pastinya akan lebih membosankan dari blog ini. Jadi, bagi kamu-kamu yang sudah setia bersama blog ini, selama 9 tahun, terima kasih banyak. O yah, kenapa blog yang baru akan lebih membosankan? Karena isinya akan seputar opiniku mengenai politik dan SARA, pendidikan dan isu sosial di masyarakat, komentar kuli...