Langsung ke konten utama

Tolong, jangan sakiti dia


Kamu tahu bahwa tidaklah mudah bagiku pada awalnya untuk menerima dan menjalankan ini semua, tapi akhirnya ketulusan dan kepasrahan pada TUHAN-ku yang membuat aku sanggup berada di dalam rencana-NYA. Kamu dan aku, kita sama-sama tahu bahwa kita sama-sama mencintainya. Jagalah hatinya, bukankah itu yang kau janjikan pada awalnya? Tolong, jangan sakiti dia.

Kamu pasti mengerti tiap tetes air mata kesakitan dan kesedihan, atau teriakan dalam hati namun tak bersuara. Dan ketahuilah, itu yang aku rasakan sampai saat ini. Kekuatanku tak seberapa Dik, atau harus kupanggil kau Bunda? Mengapa kau uji aku sampai sejauh ini untuk mengukur seberapa lama lagi aku bertahan dalam kondisi seperti ini, dengan menyakiti dirinya?

Kau beruntung Dik, kau beruntung Bunda, bisa berada di posisimu saat ini. hargailah, tolong, hargailah! Seberapa banyak lagi harus kau buat kesalahan yang sama? Seberapa lama lagi kau mau berdiri di atas sikapmu yang seperti itu? Tolong, mengertilah perasaanku.

Atau bila kau tak peduli, bila kau tak mau tahu tentang betapa sakitnya aku, tak mengapa Adik, tak mengapa Bunda. Hanya pesanku, jagalah dia, jagalah hatinya. Bukankah kau mencintainya juga? Tolong, jangan sakiti dia.

ADIOS
                                                          

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Si Pita Hijau, Kuning, dan Merah

Ini pengalaman ospek yang lucu, menggemaskan sekaligus menyebalkan. Pasalnya, aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Ini terjadi pagi hari saat hari pertama OKK, ospek untuk Universitas di Depok berlangsung. Jam 7 pagi kami semua harus berkumpul, tapi aku dan teman-temanku malah berjalan santai berlenggang kangkung bak putri solo yang memakai kebaya rapat jaman dahulu. Jadi pada intinya, kita jalannya santai aja padahal ada kakak senior berjakun yang jagain dan ternyata kita nggak boleh naik bikun(alat transport)ke balairung, tempat berkumpul dan acara berlangsung. Otomatis, kita mesti lari-larian dari teknik melewati ekonomi, melewati jalan diantara FIB dan FISIP. Ngos, ngos. Pemeriksaan. Cek list, pass... Jalan santai lagi sambil menikmati hawa sejuk yang agak menusuk kulit tapi pemandangan hijaunya daun menyegarkan sekali. Kami seperti menganggap ini adalah jalan santai, jalan pagi bagi para manula untuk menghindari osteoporosis. Sementara, senior-senior berjakun sudah ber...

THE END

THE END. ADIOS.

Salam Perpisahan

Halo semua, ini mungkin jadi sapaan terakhir. Mohon maaf kalau terakhir hanya ada dua kata tanpa cuap-cuap perpisahan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis satu post lagi. Di post dua kata sebelumnya, aku memang berniat untuk menyudahi blog ini. Bukan berarti aku akan berhenti menulis. Tidak, tidak. Menulis adalah bagian hidupku yang tidak bisa kutinggalkan. Kalau ada anugerah Tuhan yang bisa aku miliki, menulis adalah satu-satunya hal yang aku tahu bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Mungkin (ini masih mungkin), aku akan membuat blog baru dengan nama baru. Aku sudah lama memikirkannya. Blog baru aku akan kuberi nama dengan anagram dari nama asliku. Blog baru-ku pastinya akan lebih membosankan dari blog ini. Jadi, bagi kamu-kamu yang sudah setia bersama blog ini, selama 9 tahun, terima kasih banyak. O yah, kenapa blog yang baru akan lebih membosankan? Karena isinya akan seputar opiniku mengenai politik dan SARA, pendidikan dan isu sosial di masyarakat, komentar kuli...