Langsung ke konten utama

Postingan

Edisi Mr. Mochi

As usual , aku akan nulis sesuatu lagi buat seseorang nun jauh disana dikarenakan aku nggak yakin orang yang bersangkutan bakalan baca ini atau nggak baik dalam waktu dekat atau tidak sama sekali. Seperti yang sudah-sudah, aku, si sibuk yang sulit banget ditemui atau diajak kemana-mana buat ketemuan sama teman-teman karena aku sudah punya jadwal resmi yang malas banget diotak-atik kecuali masalah yang urgent … Well , kebetulan karena aku punya latar belakang pendidikan kimia dan berkecimpung di dunia kimia lebih dalam (karena aku terlanjur sayang sama si mahkluk yang namanya kimia ini), kebetulan juga, teman aku (dan akan jadi teman aku walaupun saat ini dia berubah menjadi mahkluk menyebalkan nomor wahid!), bekerja di bidang yang hampir serupa walau tak sama, yah…ada hubungannya lah. Aku bingung banget. Sebenarnya ketika aku ngajak oknum ini ketemuan, bukan buat bisnis aja, bukan lagi…karena aku udah nggak terlalu tertarik dengan prospek kecil dari omset yang nggak terlal...

Feel Weird as A Stranger

I just found myself being weird from day to day, grow strange…?! Bukan satu-dua orang lagi yang bilang, “Mule, kamu aneh.” Sebenarnya yang membuat aku merasa menjadi semakin aneh adalah ketika aku tanya balik ke empunya yang punya pertanyaan itu selalu jawabannya, “Saya juga nggak tahu kamu anehnya dimana. Sulit diungkapkan, tapi aneh aja.” Terus? Aku harus memperbaiki keanehan aku di bagian mananya? Karena bagian itu aja tidak bisa diberitahukan padaku. Hal aneh bagiku adalah ketika seseorang bilang, “Kamu salah,” tapi tidak bisa menunjukkan bagian salahnya dimana. No, no, no. Aku nggak marah dengan pernyataan itu, tapi aku jadi penasaran aja, bagian mana yang perlu aku perbaiki, karena aku perlu untuk grow up dan berubah jadi lebih oke lagi. Well yah, maybe I’m a ‘faking good’ people, but I’m never be a ‘faking right’ people, because the truth cannot be lied with anything. Hal lain yang membuat aku penasaran adalah ketika orang lain penasaran meng...

Jalan Kembali

Lucu nggak sih kalau ada kisah seperti ini? Kami sudah saling kenal sebelum dunia dijadikan. Kami bercanda bersama dan tertawa dengan hati yang sangat damai. Tak ada duka, tak ada tangisan. Lalu Bapa kami memutuskan untuk menciptakan dunia ini. Dunia yang akan kami tempati bernama Bumi. Masing-masing kami dilahirkan, ditempatkan di Bumi pada waktu yang berbeda dan di lokasi yang berbeda juga. Kami tak saling kenal lagi satu sama lain di Bumi. Ingat-ingatan kami mengenai tempat asal kami seolah menjadi samar, bahkan terlupakan karena pengaruh arus Bumi. Tempat dimana seolah Bumi merupakan tempat asal kami yang semula. Kami terlena dan kami terpukau. Bahkan, kami lupa diri. Lupa dari mana asal kami dan lupa bagaimana jalan pulang. Lupa siapa Bapa kami. Suatu hari, Bapa menjelma menjadi manusia, sama seperti wujud kami di Bumi. Ia memiliki misi bahwa penderitaan dan aktivitas yang kami alami di Bumi juga akan Ia rasakan. Hidup dalam segala keberdosaan yang membuat kami lupa ...