Langsung ke konten utama

Postingan

Dari Idealis jadi Pesimis terus Optimis

Apa yah nih? Ideal? Hem hem Aku ingat seseorang pernah menjelaskan padaku bahwa di dunia ini nggak ada yang bener-bener ideal. Lantas, bagaimana dengan rumus fisika gas ideal? Nah loh? Aku mau jelasin, Cuma ini berharga. Ilmu yang rahasia. Mesti bayar mahal buat tahu. Tapi, tapi... Oke, gini aku jelasin dikit yah. Gas ideal itu ga ada. Cuma ada satu patokan yang dianggap paling mendekati ideal. So , itu yang digunain. Terus apa hubungannya sama post ini? Itu Cuma cuap-cuap nge-latih kesabaran sampe mana kamu mau baca tulisanku. Jangan ngaku suka baca blog ini kalau belom baca sampe titik terakhir. Jadi, aku mau ngomong tentang idealisme yang nggak akan pernah terwujud di bumi pertiwi Indonesia ini. Aku baru aja nyorot, setitik kecil lokasi di kota Megametropolitan di Jakarta Utara yang ngakunya kawasan elit gara-gara ada perumahan orkay (orang kaya) yang bernama Kelapa Gading. Yang punya mall bernama MOI ( Mall of Indonesia ) yang di dalemnya ada dufan mini yang aduhai, megahnyo gedun...

Aku Jomblo dan Aku Bahagia (Curhat abis)

Hem, bingung mau nulis apa dan mau mulai gimana. Biasanya kalau udah di wc sendiri lagi nongkrong atau lagi merem-merem mau tidur, banyak deh ide yang bersileweran. Sayang sekali, alat ajaib dari Doraemon di abad 22 yang langsung bisa menulis sendiri apa yang kita pikirkan belum ditemukan. L Yah, pokoknya aku mau nulis aja. Nulis itu udah jadi bagian yang penting dalam hidupku. Setiap kata-demi-kata sederhana, simple, nggak perlu terlalu banyak konotasi bisa dirangkai jadi sebuah puisi yang puitis, jadi cerita tragedi yang tragis atau juga jadi cerita konyol yang bingin ngiris. Doeng... Mau ngomong cinta, terlalu secret. Mau ngomong tentang temen-temen, wuih, panjang, cerita seru tiada akhir soalnya paling gokil ngalamain di SMA. Dan baru kali ini nggak ada tuh yang namanya selek tingkat tinggi kaya SMP. Nggak ada bully-bully (Zaemon à tokoh di Shinchan) yang sok jago oleh senior. Oke, aku ceritain dikit tentang love story yang nggak seru-seru amet. Aku selama 18 tahun, baru pacaran s...

Berjuang part 3

Setelah itu berbagai kejutan menanti. Suatu malam di hari Selasa, datanglah rombongan saudara-saudariku tercinta. Kucluk-kucluk. Aku seneng banget karena udah lama banget nggak ketemu mereka karena aku mesti kerja kan supaya menambah uang saku-lah setidaknya karena gaji yang nggak seberapa juga sih tapi aku seneng kok dengan pekerjaanku dan menikmati. Karena aku tahu, aku bekerja untuk siapa. BAPA kok yang udah nempatin aku di sana dan ngasih aku kerjaan. Aku tahu bakal dapet sesuatu dan belajar sesuatu di sana. Oke, karena aku kerja (magang) dari jam 9 masuk sampe jam 5 tidak teng-teng keluar, dari Senin-Sabtu, aku yah susah lah punya waktu luang. Rasanya gregetan juga. Aku kan biasanya deket-deket dan ketemuan sama saudara-saudara aku tuh. Nggak biasa aja kaya gini. Ini pasti dipersiapin BAPA juga buat aku supaya waktu nanti aku kos kuliah di Depok sana nanti, aku yah udah harus terbiasa menahan rindu (cie i lah). Saudara-saudariku dateng dengan senyum-senyum gitu. Aku seneng. Hem, h...

Berjuang part 2

Ternyata perjuangannya nggak sampai sana aja. Pas pulang, lampu ruangan udah gelap semua, masuk pager juga buka sendiri. Cuma pintu kayu aja yang dibukain. Beres-beres kaya orang bisu soalnya pada udah setengah tidur. Padahal baru setengah sebelas loh. Terus aku mandi yang bersih karena lengket sama keringet. Aku masuk kamar pelan-pelan. “Kok pulangnya malem?” tanya mama. “Iya ma,” gitu aja jawab aku. Terus aku mencoba tidur tapi matanya nggak bisa terpejam. Aduh, dag dig dug. Jam 3 gimana nih nasib nya? Ternyata beres deh, jam 3 terlewati dengan aman, syukurlah... Keesokan paginya, bener-bener pagi, aku buka internet buat kaya daftar ulang gitu deh. Cici aku yang masuk kamar bilang, “Cie, selamat yah masuk UI.” Mama aku masuk, “Mama tahu kamu buka internet buat liat pengumuman kan? Udah masuk tuh, seneng kan?” nada mama jutek banget. Jep! Aku nangis tapi cepet-cepet aku apus. Soalnya aku ngarepnya kan mama bakalan bilang, “Selamat yah Nak, kamu lulus, sudah buat orangtua bangga!” Nope...

Berjuang part 1

Aduh, udah lama banget rasanya belom nulis di blog kesayangan. Super sibuk banget! Tapi jiwa penulis Mule nggak akan pernah padam, buktinya setiap ada waktu senggang dikit aja nih, dimanfaatkan buat nulis blig kesayangan. Mule punya banyak cerita. Mulai dari 28-29 Juni 2011 ini, Mule ada acara ret-ret sama gereja. Seneng sekali karena pergi bareng adik yang Mule sayangi banget, namanya Decu=Dede lucu. Mukanya bulet lucu, selalu tertawa riang dengan suara dan gaya yang khas. Nggak akan ada tandingannya dan nggak akan ada duanya deh si Decu itu(suatu saat dia akan baca blog ini). Selama ret-ret itu kita berdua-an terus kaya orang nge-date. Tapi yang ini lebih seru. Di sana kita muji BAPA terus, senengnya itu. Sayangnya, kita agak kurang srek kalau disuruh banyak gerak. Semua kegiatan syukurnya bisa kita ikuti dan lalui dengan baik, mulai dari pindahin chocolatoes dari mulut ke mulut sampai nyusun puzzle yang disembunyiin di rerumputan. Tempat Ret-ret di daerah Puncak sana, wisma Hos...

Klarifikasi

Ini untuk mengklarifikasi cerita-cerita yang dulu. Nggak penting sih buat pembaca tapi penting buat reputasi Mule. Aku pernah bilang tentang 'someday' kan? This day is 'someday'. Yup! Aku udah lupa sama perasaan nggak jelas aku itu sama jendela. Aku udah nggak over-care lagi sama Merk Teh. Aku nggak perlu always tahu tentang Gerry. Aku bahkan nggak harus selalu mengawasi Two lagi. Wohooo... Lega rasanya. Lega banget! Beneran! Soalnya, boooom. Semua beban yang lalu udah lepas. Aku nangis loh saking bahagianya. Iya, aku bahagia. Ini baru bener. Ini duniaku. Terima atau tolak? Ikut atau tidak? Dateng atau pergi? Ayo, tetapkan. Mereka adalah bagian kebodohan masa lalu-ku. Kejam? Yup, aku memang kejam. Waktu memang kejam. Aku bagian dari 'Sang Waktu'. Bla...bla...bla... Twit... Twit... Twit... Lalu BOOOM! Semua berlalu juga. Nggak ada lagi suka, nggak ada lagi benci. Penasaran tidak perlu, mengetahui kesia-siaa...

Hello Mr.Mochi

Hello Mr. Mochi. Aku tahu kamu bakal baca blog ini. Hari ini kita bertemu setelah beberapa pekan tidak bertemu. Senang? Tentu saja. Kamu? Aku? Kita sama-sama senang bukan? Bagaimana dengan kopi-kopi Padang Belantara? Kamu harus jadi penikmat kopi, itu namanya menikmati hidup. Mensyukuri buatan SANG PENCIPTA. Mr. Mochi... Sebenarnya, waktu kamu bilang sayang waktu itu, aku kaget. Aku takut kalau yang kamu bilang, “Mau jadi pacar gue?” Yaiks, aku tahu jawabanku tapi aku tahu sebenarnya nggak sampai hati menyakiti perasaanmu. Tapi, aduuuuuuuuh! Aku pingin jerit di telingamu! Sayang sekali. Tiga tahun mengetahui satu sama lain tapi kamu belum mengenalku seberapa keras usahamu mengetahui rahasia hidupku. Padahal, Mr. Mochi, aku tak menyembunyikan sesuatu apapun. Kau yang mengetahui saudara-saudariku, kau tahu tentang pengajaran dan imanku. Tapi, mengapa sulit sekali untuk kau mengerti? Memang benarlah tulisan ini: Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan bua...