Langsung ke konten utama

Kata-kata di Transjakarta

Kuhampiri bangku dengan lekas
Kududuk di tempat yang panas
Dari pantat yang berbekas
Menjaga teritorial ini dengan tegas

Lampu jalanan yang menyengat
Membuat aku teringat
Akan pikiran dan semangat
Yang tak boleh menjadi penat

Menghadapi jalan yang macet
Kulit berkeringat yang lengket
Akibat berdempet-dempet
Dan gesekan kaki yang lecet

Ingin saja kutuliskan kata
Namun aku berada di ibukota
Tempat yang sulit ditata
Dan jalannya terbata-bata

Ibukota negara
Banyak mencari gara-gara
Karena setiap orang mengira
Terhormat aku seorang perwira

Ah...setiap peluh
Apakah menghasilkan sembuh
Ketika jiwa berpuluh-puluh
Hanya dapat mengeluh mengaduh

Kami lupa mengucap syukur
Atas negeri yang makmur
Lupa berkaca pada umur
Seperti kering kerontangnya sumur

Tuhan kiranya mengampuni
Kepada jiwa yang minta dikasihani
Pada setiap doa yang murni
Tertutur dari dalam nurani

ADIOS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Si Pita Hijau, Kuning, dan Merah

Ini pengalaman ospek yang lucu, menggemaskan sekaligus menyebalkan. Pasalnya, aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Ini terjadi pagi hari saat hari pertama OKK, ospek untuk Universitas di Depok berlangsung. Jam 7 pagi kami semua harus berkumpul, tapi aku dan teman-temanku malah berjalan santai berlenggang kangkung bak putri solo yang memakai kebaya rapat jaman dahulu. Jadi pada intinya, kita jalannya santai aja padahal ada kakak senior berjakun yang jagain dan ternyata kita nggak boleh naik bikun(alat transport)ke balairung, tempat berkumpul dan acara berlangsung. Otomatis, kita mesti lari-larian dari teknik melewati ekonomi, melewati jalan diantara FIB dan FISIP. Ngos, ngos. Pemeriksaan. Cek list, pass... Jalan santai lagi sambil menikmati hawa sejuk yang agak menusuk kulit tapi pemandangan hijaunya daun menyegarkan sekali. Kami seperti menganggap ini adalah jalan santai, jalan pagi bagi para manula untuk menghindari osteoporosis. Sementara, senior-senior berjakun sudah ber...

THE END

THE END. ADIOS.

Salam Perpisahan

Halo semua, ini mungkin jadi sapaan terakhir. Mohon maaf kalau terakhir hanya ada dua kata tanpa cuap-cuap perpisahan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis satu post lagi. Di post dua kata sebelumnya, aku memang berniat untuk menyudahi blog ini. Bukan berarti aku akan berhenti menulis. Tidak, tidak. Menulis adalah bagian hidupku yang tidak bisa kutinggalkan. Kalau ada anugerah Tuhan yang bisa aku miliki, menulis adalah satu-satunya hal yang aku tahu bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Mungkin (ini masih mungkin), aku akan membuat blog baru dengan nama baru. Aku sudah lama memikirkannya. Blog baru aku akan kuberi nama dengan anagram dari nama asliku. Blog baru-ku pastinya akan lebih membosankan dari blog ini. Jadi, bagi kamu-kamu yang sudah setia bersama blog ini, selama 9 tahun, terima kasih banyak. O yah, kenapa blog yang baru akan lebih membosankan? Karena isinya akan seputar opiniku mengenai politik dan SARA, pendidikan dan isu sosial di masyarakat, komentar kuli...