Minggu, 17 September 2017

Menahan Diri

Sumber : https://pixabay.com/en/self-control-willpower-restraint-710228/

Awalnya hanya menahan diri, tapi lama-lama akan terbiasa (seharusnya begitu). Wajar kan kalau aku melindungi hatiku sendiri? Seperti yang pernah aku bilang, aku terlalu takut untuk jatuh, terlalu takut untuk sakit.
Orang bilang, sakit itu bagian dari pembelajaran, pengalaman yang berharga, guru yang manjur…tapi kalau kejadiannya selalu saja rasa sakit itu yang kurasa, aku ragu. Luka lama bahkan belum mengering atau bekas luka yang lalu masih terlihat, tapi ditimpal lagi di tempat yang sama. Aku takut, luka itu makin melebar dan bernanah, makin sakit.
Pada akhirnya, apakah aku harus menyama-ratakan semua perasaan kepada setiap orang? Tidak ada yang lebih dan kurang. Semua akan terasa lebih mudah kalau merasa biasa kan? Memati-rasakan perasaan?!
Aku bertanya, apa itu cinta? Apakah masih ada cinta di kehidupan ini? Bagaimana kehidupan setelah pernikahan?
Ada yang pernah bilang padaku, rasanya bukan lagi seperti cinta masa muda yang menggebu. Ketika ia bangun, yang ia mau ada istrinya di sampingnya, sebab kalau tidak, ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Yang ada hanya rasa saling memiliki dan membutuhkan. Lantas, apakah itu bisa disebut cinta?
Lagi, aku bertanya. Perempuan sebagai kaum yang lemah, bisa apa? Kami dituntut diam. Kata laki-laki, itu bentuk penghargaan kami pada mereka. Lalu ketika aku bungkam, maka kesunyian yang ada dan aku merasa sendiri. Tidak enak rasanya dilingkupi rasa kesepian. Tidak pernah enak sendiri. Bukankah berdua lebih baik karena satu sama lain bisa saling menolong, menghangatkan, dan mengingatkan?
Ah, sudahlah. Cuap-cuapku di pagi hari ini yang bahkan tak bisa kunikmati lagi hangatnya mentari, yang ada hanya panas menyengat. Tidak ada lagi kenyamanan yang kurasa.

ADIOS.

Selasa, 12 September 2017

Kita Tidak Pernah Tahu

Hasil gambar untuk kita tidak pernah tahu
Sumber: http://gramedia.tumblr.com/post/75852019142/kita-tidak-pernah-tahu-rencana-tuhan-kita-tidak

Kita tak akan pernah tahu, dengan siapa kita akan bertemu.
Kita juga tidak pernah tahu, bagaimana hubungan kita dengan orang-orang itu, apakah menjadi kawan atau lawan? Apakah dia menjadi seseorang yang dibenci atau dicinta?
Kita tidak pernah tahu kejadian apa yang kita lalui bersama saat mengenal orang itu.

Rasanya, hari-hari berlomba untuk mencapai garis akhirnya dan waktu berseru-seru dengan nyaring.

Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita diberi kesempatan untuk saling mengenal. Kau dan aku.

Bukankah sepanjang hidup adalah tentang mengenal dan dikenal? Tentang apa yang sudah dan belum kita lakukan? Tentang apa yang tertinggal dan terlupa?

Pastilah Tuhan sudah merancang kapan dan bagaimana cara kita bertemu. Dia sudah menyiapkan skenario setiap momen yang menjadi bagian-bagian lucu, sedih, marah, dan tawa dalam frame-frame unik yang tak pernah kita pikirkan.
***
Dia pastilah tersenyum ketika tahu dua insan tercipta untuk saling mencinta, mencipta damai, dan merajut asa. Dia menaburkan benih harapan dan siraman air kasih. Semuanya ditumbuhkan dengan bertopang pada akar keyakinan bahwa pohon hubungan tersebut akan berbuah pada waktu-NYA.

Dia menyinari dua insan dengan cahaya kehidupan, membalutnya dengan kain sukacita, dan mengganti rundung jadi tawa. Langkahnya beralaskan kepastian dan Ia membuat waktu bukan jadi penghalang.

Seandainya kita, manusia tidak melupakan perlengkapan yang disediakan Tuhan, pastilah hidup kita bahagia. Seandainya kita, manusia tidak menolak untuk memakai perlengkapan yang disediakan Tuhan, pastilah hidup kita penuh damai.

Manusia dengan segala keegoisannya, meninggikan pikirnya sendiri daripada nurani. Manusia menanggalkan kasih dan memakai kebencian. Di kepalanya tertera kata-kata perang dan berbaju zirah-kan kekerasan. Di mulutnya bukan ada pujian, tapi sumpah serapah. Di tangannya tidak tersedia bantuan, tapi petaka yang siap menghadang. Kakinya berkasutkan kejahatan dan tipu muslihat, ia segera berlari kepada dusta dan kehampaan.


Apakah manusia Tuhan, sehingga Engkau mengindahkannya? Padahal kami ini debu, tulang balut kulit. Hembusan nafas-Mu saja mampu membinasakan kami. Kembalilah, kembalilah Tuhan. Biar kami ingat akan Penolong dan Penebus kami, Pembebas dan Pemelihara jiwa kami. Mengapa Engkau tetap jauh Tuhan saat kami berseru? Segeralah menolong, jangan berlambat.

ADIOS.

Kamis, 31 Agustus 2017

Post di Penghujung Bulan Agustus

Malam ini, galau euy. Alasannya? Nesis nggak kelar-kelar. Revisi terus. Padahal udah latihan nulis di blog, tapi belum ada kemajuan yang signifikan. Ya iyalah, bahasa nggak resmi, kalimat nggak mengandung SPOK, jalur bebas (kaya tulisan di pangkalan ojek, jalur bebas gitu).
Selain galau nesis, pasalnya ini tanggalnya. Syukurlah, walaupun sudah sangat mendekati akhir bulan. Setiap bulan berharap, takut rasanya. Berharap aku ini perempuan normal yang sehat. Kata orang, itu menurun, bisa dari gen. Bukan berlebihan mengenai hal itu karena beberapa kasus dari garis keturunan papa mengalami kasus yang serupa.
Aku tahu, ujung hidup manusia adalah kematian. Kalau memang proses kelahiran bukanlah sesuatu yang bisa aku pilih, begitu juga dengan kematian. Kalau begitu, aku memilih untuk melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan selama aku hidup, itu pilihan yang bisa aku lakukan, kan?
Ketakutanku? Aku takut Tuhan marah dan menilai aku belum komplit menyelesaikan misi yang DIA berikan selama aku ditugaskan di dunia. Sejujurnya, aku ingin menyerah saja pada ‘pembelajaran’ yang sedang berjalan ini, tapi aku tidak bisa atau lebih tepatnya aku takut. Kalau TUHAN sudah menempatkan aku di sini, memberi aku kesempatan, aku tidak bisa menyia-nyiakannya. Suatu saat, ketika dituntut pertanggung-jawaban dariNYA, aku harus bilang apa? Bahwa aku tidak mampu? Wong, dasarnya memang aku nggak mampu, mengapa tidak minta kemampuan dari DIA? Kira-kira, begitulah drama dalam kepalaku.
Setiap kali aku mau ‘udahan’, selalu muncul drama seperti ini
Aku1    : “Apa tujuan kamu? Hayo?”
Aku2    : “Berguna bagi orang lain.”
Aku1    : “Lebih spesifik!”
Aku2    : “Jadi dosen?” (mulai ragu-ragu). “Tapi aku nggak pintar. Nilaiku jelek. Masih banyak orang yang   lebih pintar dari aku dalam akademik.” (muka sedih)
Aku1    : “Kalau begitu, gunakan talenta yang TUHAN berikan buat kamu.”
Aku2    : “Apa?” (merasa tidak berguna)
Aku1    : “Kamu bisa mengumpulkan orang-orang pintar, merangkum mereka dalam satu lembaga Pendidikan. Tujuanmu tetap dapat tercapai.”
Aku2    : (Teringat Bill Gates. Kembali semangat).
Tentu saja aku tidak yakin apa aku punya kepribadian ganda atau tidak, tapi aku merasa lebih baik ketika aku berbicara dengan ‘aku’ yang lain, saat ‘aku’ yang lain memotivasi. Bisa jadi muncul ‘aku’ yang menjatuhkan (please, ini rada aneh tapi benar).
Jadi, aku mengumpulkan niat dan semangat selama akhir pekan ini buat menuntaskan tugas kuliah (tesis dan mata kuliah tatap muka). Berharap menemukan ide setelah ‘merem-merem ayam’ sebentar lagi.
sumber: http://www.go-dok.com/kepribadian-ganda-penyakit-psikis-yang-menginspirasi-split/

ADIOS.

Kamis, 17 Agustus 2017

Menulis Kisah

Hasil gambar untuk laut dan langit kelabu
Sumber http://greatfon.com/id/pictures/188331/version/1024x1024
Mungkin rasanya tidak menjadi lebih mudah, tapi setidaknya bebannya menjadi lebih ringan. Ada sebagian kekhawatiran yang menguap, prasangka yang tidak terjadi, dan dugaan yang tidak sepenuhnya benar. Aku mengucap syukur atas apa yang telah terjadi. Penyesalan? Ya, rasa sesal itu ada. Betapa cerobohnya aku bertindak ketika akal sehat sedang tidak berkuasa karena emosi mengambil peranannya.





Kesabaran dan perlakuan yang kuterima membawa aku kembali mengingat kebaikan-kebaikan yang diberikanNYA padaku, sepanjang hidupku. Mungkin tanpa sadar, hatiku bertanya pada DIA, jalan yang mana TUHAN? Sebab, seolah kesemuaannya sama saja, aku tidak dapat melihat ujungnya. Aku hanya mendengar kabar semilir bahwa akhirnya akan bahagia, tapi aku belum tahu lika-liku tiap belokan yang harus aku lalui. Kadang tanjakan, kadang jalan yang berbatu, tak sedikit pula kutemui beberapa rintangan.

Aku melihat laut, mereka berada di sekelilingku, seolah keberadaannya ingin melahapku, menenggelamkanku dalam kekelamannya yang pekat. Ketika kulihat langit, kadang warna kelabunya mengisyaratkan persahabatan yang sembunyi-sembunyi, seolah ia mendukung laut. Namun, ketika hari menjadi cerah kembali, langitlah yang membisikkan padaku untuk tidak takut pada laut. Lalu, sebenarnya siapakah yang menahklukan siapa?

Belum kuketahui saat ini, tapi siapa tahu ada kitab yang menuliskan perjalanan hidupku. Bisa kutemukan saat ini, bisa juga nanti. Atau aku harus menuliskannya sendiri?


ADIOS.

Jumat, 07 Juli 2017

Pertanyaan Ini

Image result for this question
Sumber: http://www.spring.org.uk/2015/12/this-question-could-change-many-of-your-habits.php

Mungkin aku menulis dalam kegeramanku atau mungkin aku menulis dalam kebingunganku.

Musuh yang buas bukan berasal dari luar, tapi dari dalam. Ingat bagaimana Yesus dikhianati oleh murid-NYA sendiri, Yudas Iskariot? Betapa sedihnya perasaan Yesus saat itu, entah bagaimana membayangkannya. Namun, sepertinya saat ini, hal tersebut juga yang terjadi.

Aku diam, aku tidak membuka mulutku untuk perkataan yang dituduhkan padaku. Tiga orang yang berbeda, ini yang kuketahui, entah masih ada lagi di luar sana, yang mengatanasnamakan diriku mengucapkan kata yang tidak aku ucapkan. Kalian mungkin berpikir aku merasa tertuduh? Ya, aku memang dituduh. Entah, aku ingin bertanya, “Mengapa?” tapi apa gunanya? Toh, oknum-oknum itu tetap akan melakukannya.

Tanpa sadar aku membangun benteng pertahananku sendiri. Krisis kepercayaan. Lagipula, mengapa aku harus percaya pada orang lain? Seperti post-ku sebelumnya, manusia itu suka sekali berbohong. Entah apa yang ada dalam kepala setiap kita sehingga tidak sinkron antara fakta dan bualan semata.

Apakah masih ada orang jujur di dunia ini? Yang tulus hati dan tidak menyimpang, tidak dengki ataupun pemarah, tidak mencibir namun memaafkan? Lantas, mengapa kutuntut orang lain seperti itu jika aku sendiri belum mampu? Pertanyaan ini, kurasa berlaku bagi setiap yang membaca tulisan ini.


ADIOS.

Kamis, 06 Juli 2017

Sudahilah atau Matilah

Image result for 71

Pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang bisa dipercayai. Manusia adalah simbol dari kekecewaan. Berharap kepada manusia adalah sia-sia, sebab manusia adalah sosoks yang suka berdalih. Tidak ada yang tidak ditambahi kebohongan dalam berucap, kecuali SATU ORANG. SATU ORANG yang tiada berdosa dan bernoda.

Manusia boleh menjadikan SATU ORANG itu menjadi panutan dan teladan. Namun sesungguhnya, sekuat apapun manusia berusaha untuk menyamakan kedudukan kesempurnaan seperti SATU ORANG itu, tidak akan pernah bisa mencapainya. Seharusnya, manusia berdamai dengan dirinya sendiri. Beberapa menyangkal, suatu bentuk dalih lainnya. Suatu kesombongan ketika menganggap diri benar atau melakukan pembenaran diri.

Marah adalah suatu tindakan spontan ketika merasa diri hebat, ketika merasa Tuhan Yang Di Atas ingin dibela. Padahal, siapa yang memerlukan pembelaanmu? Bahkan kau sendiri yang patut dibela oleh DIA yang mengatakan akan berjalan di depanmu dan berperang untukmu? Lantas mengapa tidak berdiam diri? Hampir saja kakiku tergelincir untuk ikut dalam permufakatan yang keji. Ketika melakukan apa yang sebenarnya tidak Tuhan perintahkan untuk dilakukan, sesungguhnya kamu sudah berdusta dihadapan Sang Pencipta Alam Semesta.

Tidak takutkah manusia pada api neraka, hukuman kekal dan penderitaan yang tiada akhir? Permohonan ampun tidak akan lagi didengarkan oleh Penguasa Jagad Raya. Mengapa kamu masih berbantah wahai debu? Sudahilah atau matilah!


ADIOS.


Sabtu, 27 Mei 2017

Menulis Lagi

Aku merasa, this is my ‘real’ life. Bagian yang menjadi kesenanganku, tempat aku bisa mencurahkan segala perasaan dan menumpahkan segala imajinasi yang terkadang tidak bisa terbendung dalam kepalaku, tulisan. Aku bisa berkisah tanpa batas, tidak ada yang berkata ini salah dan benar karena tidak ada sesuatu hal yang pasti dan mutlak, tidak ada aturan yang mengikat, soal tata krama atau peraturan yang melarang ini dan itu. Dunia yang tidak tersentuh dan ternoda oleh orang-orang yang ingin menghancurkan, dunikau sendiri dalam fantasiku. Munculnya begitu saja, mengamati bagaimana gejolak serta pasang-surut yang terjadi dalam hidup ini.

Memang aneh, aku mungkin bisa saja menjadi aktivis, sosialita, atau kumpulan peneliti dan akademisi, pejuang revolusi atau public speaker yang handal. Sejujurnya, itu semua memang bisa dicapai. Setiap orang bisa belajar mengenainya, tapi ini bukan soal mampu atau tidak, ini soal hati. Mau ke mana hati melangkah dan mengarah? Sebenarnya aku sudah menemukan dan jatuh cinta dalam dunia menulisku, tapi sepertinya aku belum bisa menjatuhkan pilihan hidup kepadanya. Dalam duniaku, menulis adalah sesuatu yang harus menunggu, di daftar panjang pencapaian yang sudah ditetapkan bagiku. Kegagalan dan pertentangan acap kali terjadi, tapi tak mengapa. Berkarya harus tanpa batas, berkarya tak harus seterkenal itu, tidak sepenting itu untuk dikenal, tapi bagaimana menyampaikan pesan dan meneruskan buah pikir yang tertanam pada otakku, sehingga dapat disebar sebagai bibit yang kemudian akan bertumbuh, entahkah di tanah subur atau gersang, suatu saat bibit akan bertumbuh kalau dirawat dengan baik, dengan benar, dengan perjuangan dan kerja keras yang tiada menyerah.

Yah, suatu saat pasti ada buah yang akan dipetik, kalau kita benar-benar bisa mengusahakannya. Aku tidak terkekang dengan apa yang aku jalani sekarang, sebab pencapaian suatu tujuan tidak mesti dari satu jalur saja, terkadang kita harus berbelok, walaupun phytagoras adalah jalur terpendek, tapi ujungnya akan sama seperti Hukum Hess dalam kimia. Upss!


ADIOS.

Kamis, 06 April 2017

Bila Waktuku Tiba

Akhir-akhir ini aku sering banget mual, perut sakit, dan nggak nafsu makan. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi apa sebentar lagi aku akan mati?
Aku membayangkan kalau ajal menjemput itu seperti apa?
Bukan karena aku takut menghadapinya, tapi pertanyaannya lebih kepada apakah aku sudah siap?
Ketika aku menoleh ke belakang untuk melihat apa saja yang sudah aku lakukan, apakah itu memberikan efek positif? Sudah benarkah? Apakah aku sudah melakukan hal yang berguna bagi orang lain?
Dan ketika aku melihat ke depan, pertanyaannya menjadi…hal apa yang belum aku lakukan?
Sampai akhirnya, suatu Buku Tua mengajarkanku untuk melakukan yang terbaik tiap-tiap hari, selama masih dapat dikatakan ‘hari ini’. Segala yang aku perbuat untuk Tuhan supaya aku bisa melakukan yang terbaik dengan segenap hatiku secara tulus.
Dan pertanyaannya, apakah aku siap ketika waktuku tiba untuk pulang dan meninggalkan dunia ini? Jawabannya, harus siap!

Hasil gambar untuk ready?

ADIOS.

Senin, 20 Maret 2017

Beauty and The Beast

Hari ini aku terharu banget karena dapat kesempatan buat…
Memang, karena masalah kecil banget kok, hanya karena aku bisa nonton Beauty and The Beast, sendiri, dan aku sungguh menikmati filmnya. Salah nggak yah?
Dari semua princess tale di Disney, aku memang paling suka Belle. Dia sederhana, berjiwa berpetualang, dan keingingtahuannya. Dia juga suka baca buku dan yang paling penting dia mencintai seseorang karena hati.
Aku cuma membayangkan, Tuhan itu mencintai manusia nggak pandang paras kita, kelebihan kita, kehebatan kita, tapi dari kelemahan dan kekurangan kita sekalipun, DIA tahu dan DIA tetap mencintai kita, karena dari kelemahan kita DIA pingin bilang kalau DIA yang akan menyempurnakannya tanpa mempermasalahkan sedikit pun.
Di tengah kepenatan dan seabrek-abrek kewajiban dan tanggun jawab yang dikejar tayang, rasanya memang seperti menunda pekerjaan selama 120 menit, tapi itu berharga banget dan sangat membantu aku. Menghibur aku. Salah nggak yah?
Belle benar-benar pemenuhan fantasi aku tentang prince charming, princess, and castle, and all about magic. I don’t like it, but I love it! Is this insane?
Dan aku suka semua lagu yang dinyanyikan di sana, semuanya persis seperti original yang selalu kutonton dulu, dan aku punya CD orignalnya, side A and side B. Dulu masih VCD dan masih dua CD gitu yang nggak pernah aku bosan untuk ditonton lagi dan lagi dan lagi.
Oh, tapi aku nggak suka bunga mawar, dan tanduk-nya si Beast, tapi suasananya dan gaun Belle keren banget dan Emma Watson cantik banget. Dandanannya natural tapi malah menonjolkan kecantikan dia. Dan Stevens ganteng pas dia baru aja berubah jadi pangeran lagi, waktu rambutnya tergerai begitu aja belum di 'kriwil-kriwil' lagi. Mata biru-nya itu loh! Melting deh.
Baru kali ini aku seneng banget nonton film fairy tale and this is so touching. Mungkin berlebihan, tapi aku bener-bener sukaaa banget walau kalaupun salah mengenai hal ini, well ya, I’m sorry about that.
Image result for beauty and the beast



ADIOS.




Selasa, 07 Maret 2017

Bahagiamu

Semoga bahagiamu menyambut di pagi hari

Aku sudah menahan diri untuk menulis. Entah mengapa menulis dengan bebas dari hati lebih terasa nikmat dan jari-jariku sangat teramat ringan untuk menekan setiap huruf dan merangkainya sebagai kata-kata.
Terasa sepi, terasa ada sesuatu yang hilang dan ingin kucari, untuk mengisi kesepian itu, entah apa. Aku masih belum menemukan jawabannya, tapi aku masih mencarinya. Apa? Aku belum tahu.
Bagaimana mungkin aku membenci orang yang aku cintai? Katanya cinta tidak harus memiliki, benarkah? Kalaupun tidak fisikmu, aku boleh memiliki cintamu? Aku boleh menerima sedikit saja rasa sayang?
Tidak. Aku tidak menuntut untuk diperhatikan. Aku hanya perlu kabarmu. Sedang apa kau? Bagaimana awal harimu? Apakah kau bahagia di sana? Sudahkah kau tersenyum pagi ini? Sudahkah kau minum kopi kesukaanmu? Ah yah, tiap pagi kau butuh cairan hitam yang kental itu, mengepulkan asap panas yang sebentar saja lalu hilang lenyap, menyesapnya hingga aromanya memenuhi paru-parumu. Itu jauh lebih baik daripada asap rokok yang memenuhi rongga udara dalam tubuhmu.
Tak banyak yang bisa kulakukan. Bukan, aku tidak menyalahkan jarak yang merentangi kita. Aku mengucapkan namamu, mengingatmu dalam doaku. Belum, aku belum menyerahkan emas ataupun perak padamu, yang sepatutnya memang kau terima tapi mudah-mudahan pemberian sederhanaku, tentang harapan dan tentang cinta, sanggup memenuhi hatimu dalam kedamaian. Kukirimkan itu karena doa tidak terbatas pada ruang dan waktu.
Aku berharap, kau bahagia, tenang dan senantiasa dalam senyummu. Tertawa, menari, dan bercanda. Dalam setiap detik, kuharap harapanmu dan harapanku, harapan kita, tidak pernah sia-sia. Semoga terwujud nyata kelak supaya kita bisa tertawa dalam kemenangan, walau mungkin bukan aku yang berada di sampingmu, di dekatmu saat itu. Sungguh, kabar sukacitamu lebih dari impian hidupku lainnya.
Aku ingin kau bahagia selalu. Sekarang dan seterusnya.


ADIOS.

Diberdayakan oleh Blogger.