Jumat, 07 Juli 2017

Pertanyaan Ini

Image result for this question
Sumber: http://www.spring.org.uk/2015/12/this-question-could-change-many-of-your-habits.php

Mungkin aku menulis dalam kegeramanku atau mungkin aku menulis dalam kebingunganku.

Musuh yang buas bukan berasal dari luar, tapi dari dalam. Ingat bagaimana Yesus dikhianati oleh murid-NYA sendiri, Yudas Iskariot? Betapa sedihnya perasaan Yesus saat itu, entah bagaimana membayangkannya. Namun, sepertinya saat ini, hal tersebut juga yang terjadi.

Aku diam, aku tidak membuka mulutku untuk perkataan yang dituduhkan padaku. Tiga orang yang berbeda, ini yang kuketahui, entah masih ada lagi di luar sana, yang mengatanasnamakan diriku mengucapkan kata yang tidak aku ucapkan. Kalian mungkin berpikir aku merasa tertuduh? Ya, aku memang dituduh. Entah, aku ingin bertanya, “Mengapa?” tapi apa gunanya? Toh, oknum-oknum itu tetap akan melakukannya.

Tanpa sadar aku membangun benteng pertahananku sendiri. Krisis kepercayaan. Lagipula, mengapa aku harus percaya pada orang lain? Seperti post-ku sebelumnya, manusia itu suka sekali berbohong. Entah apa yang ada dalam kepala setiap kita sehingga tidak sinkron antara fakta dan bualan semata.

Apakah masih ada orang jujur di dunia ini? Yang tulus hati dan tidak menyimpang, tidak dengki ataupun pemarah, tidak mencibir namun memaafkan? Lantas, mengapa kutuntut orang lain seperti itu jika aku sendiri belum mampu? Pertanyaan ini, kurasa berlaku bagi setiap yang membaca tulisan ini.


ADIOS.

Kamis, 06 Juli 2017

Sudahilah atau Matilah

Image result for 71

Pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang bisa dipercayai. Manusia adalah simbol dari kekecewaan. Berharap kepada manusia adalah sia-sia, sebab manusia adalah sosoks yang suka berdalih. Tidak ada yang tidak ditambahi kebohongan dalam berucap, kecuali SATU ORANG. SATU ORANG yang tiada berdosa dan bernoda.

Manusia boleh menjadikan SATU ORANG itu menjadi panutan dan teladan. Namun sesungguhnya, sekuat apapun manusia berusaha untuk menyamakan kedudukan kesempurnaan seperti SATU ORANG itu, tidak akan pernah bisa mencapainya. Seharusnya, manusia berdamai dengan dirinya sendiri. Beberapa menyangkal, suatu bentuk dalih lainnya. Suatu kesombongan ketika menganggap diri benar atau melakukan pembenaran diri.

Marah adalah suatu tindakan spontan ketika merasa diri hebat, ketika merasa Tuhan Yang Di Atas ingin dibela. Padahal, siapa yang memerlukan pembelaanmu? Bahkan kau sendiri yang patut dibela oleh DIA yang mengatakan akan berjalan di depanmu dan berperang untukmu? Lantas mengapa tidak berdiam diri? Hampir saja kakiku tergelincir untuk ikut dalam permufakatan yang keji. Ketika melakukan apa yang sebenarnya tidak Tuhan perintahkan untuk dilakukan, sesungguhnya kamu sudah berdusta dihadapan Sang Pencipta Alam Semesta.

Tidak takutkah manusia pada api neraka, hukuman kekal dan penderitaan yang tiada akhir? Permohonan ampun tidak akan lagi didengarkan oleh Penguasa Jagad Raya. Mengapa kamu masih berbantah wahai debu? Sudahilah atau matilah!


ADIOS.


Sabtu, 27 Mei 2017

Menulis Lagi

Aku merasa, this is my ‘real’ life. Bagian yang menjadi kesenanganku, tempat aku bisa mencurahkan segala perasaan dan menumpahkan segala imajinasi yang terkadang tidak bisa terbendung dalam kepalaku, tulisan. Aku bisa berkisah tanpa batas, tidak ada yang berkata ini salah dan benar karena tidak ada sesuatu hal yang pasti dan mutlak, tidak ada aturan yang mengikat, soal tata krama atau peraturan yang melarang ini dan itu. Dunia yang tidak tersentuh dan ternoda oleh orang-orang yang ingin menghancurkan, dunikau sendiri dalam fantasiku. Munculnya begitu saja, mengamati bagaimana gejolak serta pasang-surut yang terjadi dalam hidup ini.

Memang aneh, aku mungkin bisa saja menjadi aktivis, sosialita, atau kumpulan peneliti dan akademisi, pejuang revolusi atau public speaker yang handal. Sejujurnya, itu semua memang bisa dicapai. Setiap orang bisa belajar mengenainya, tapi ini bukan soal mampu atau tidak, ini soal hati. Mau ke mana hati melangkah dan mengarah? Sebenarnya aku sudah menemukan dan jatuh cinta dalam dunia menulisku, tapi sepertinya aku belum bisa menjatuhkan pilihan hidup kepadanya. Dalam duniaku, menulis adalah sesuatu yang harus menunggu, di daftar panjang pencapaian yang sudah ditetapkan bagiku. Kegagalan dan pertentangan acap kali terjadi, tapi tak mengapa. Berkarya harus tanpa batas, berkarya tak harus seterkenal itu, tidak sepenting itu untuk dikenal, tapi bagaimana menyampaikan pesan dan meneruskan buah pikir yang tertanam pada otakku, sehingga dapat disebar sebagai bibit yang kemudian akan bertumbuh, entahkah di tanah subur atau gersang, suatu saat bibit akan bertumbuh kalau dirawat dengan baik, dengan benar, dengan perjuangan dan kerja keras yang tiada menyerah.

Yah, suatu saat pasti ada buah yang akan dipetik, kalau kita benar-benar bisa mengusahakannya. Aku tidak terkekang dengan apa yang aku jalani sekarang, sebab pencapaian suatu tujuan tidak mesti dari satu jalur saja, terkadang kita harus berbelok, walaupun phytagoras adalah jalur terpendek, tapi ujungnya akan sama seperti Hukum Hess dalam kimia. Upss!


ADIOS.

Kamis, 06 April 2017

Bila Waktuku Tiba

Akhir-akhir ini aku sering banget mual, perut sakit, dan nggak nafsu makan. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi apa sebentar lagi aku akan mati?
Aku membayangkan kalau ajal menjemput itu seperti apa?
Bukan karena aku takut menghadapinya, tapi pertanyaannya lebih kepada apakah aku sudah siap?
Ketika aku menoleh ke belakang untuk melihat apa saja yang sudah aku lakukan, apakah itu memberikan efek positif? Sudah benarkah? Apakah aku sudah melakukan hal yang berguna bagi orang lain?
Dan ketika aku melihat ke depan, pertanyaannya menjadi…hal apa yang belum aku lakukan?
Sampai akhirnya, suatu Buku Tua mengajarkanku untuk melakukan yang terbaik tiap-tiap hari, selama masih dapat dikatakan ‘hari ini’. Segala yang aku perbuat untuk Tuhan supaya aku bisa melakukan yang terbaik dengan segenap hatiku secara tulus.
Dan pertanyaannya, apakah aku siap ketika waktuku tiba untuk pulang dan meninggalkan dunia ini? Jawabannya, harus siap!

Hasil gambar untuk ready?

ADIOS.

Senin, 20 Maret 2017

Beauty and The Beast

Hari ini aku terharu banget karena dapat kesempatan buat…
Memang, karena masalah kecil banget kok, hanya karena aku bisa nonton Beauty and The Beast, sendiri, dan aku sungguh menikmati filmnya. Salah nggak yah?
Dari semua princess tale di Disney, aku memang paling suka Belle. Dia sederhana, berjiwa berpetualang, dan keingingtahuannya. Dia juga suka baca buku dan yang paling penting dia mencintai seseorang karena hati.
Aku cuma membayangkan, Tuhan itu mencintai manusia nggak pandang paras kita, kelebihan kita, kehebatan kita, tapi dari kelemahan dan kekurangan kita sekalipun, DIA tahu dan DIA tetap mencintai kita, karena dari kelemahan kita DIA pingin bilang kalau DIA yang akan menyempurnakannya tanpa mempermasalahkan sedikit pun.
Di tengah kepenatan dan seabrek-abrek kewajiban dan tanggun jawab yang dikejar tayang, rasanya memang seperti menunda pekerjaan selama 120 menit, tapi itu berharga banget dan sangat membantu aku. Menghibur aku. Salah nggak yah?
Belle benar-benar pemenuhan fantasi aku tentang prince charming, princess, and castle, and all about magic. I don’t like it, but I love it! Is this insane?
Dan aku suka semua lagu yang dinyanyikan di sana, semuanya persis seperti original yang selalu kutonton dulu, dan aku punya CD orignalnya, side A and side B. Dulu masih VCD dan masih dua CD gitu yang nggak pernah aku bosan untuk ditonton lagi dan lagi dan lagi.
Oh, tapi aku nggak suka bunga mawar, dan tanduk-nya si Beast, tapi suasananya dan gaun Belle keren banget dan Emma Watson cantik banget. Dandanannya natural tapi malah menonjolkan kecantikan dia. Dan Stevens ganteng pas dia baru aja berubah jadi pangeran lagi, waktu rambutnya tergerai begitu aja belum di 'kriwil-kriwil' lagi. Mata biru-nya itu loh! Melting deh.
Baru kali ini aku seneng banget nonton film fairy tale and this is so touching. Mungkin berlebihan, tapi aku bener-bener sukaaa banget walau kalaupun salah mengenai hal ini, well ya, I’m sorry about that.
Image result for beauty and the beast



ADIOS.




Selasa, 07 Maret 2017

Bahagiamu

Semoga bahagiamu menyambut di pagi hari

Aku sudah menahan diri untuk menulis. Entah mengapa menulis dengan bebas dari hati lebih terasa nikmat dan jari-jariku sangat teramat ringan untuk menekan setiap huruf dan merangkainya sebagai kata-kata.
Terasa sepi, terasa ada sesuatu yang hilang dan ingin kucari, untuk mengisi kesepian itu, entah apa. Aku masih belum menemukan jawabannya, tapi aku masih mencarinya. Apa? Aku belum tahu.
Bagaimana mungkin aku membenci orang yang aku cintai? Katanya cinta tidak harus memiliki, benarkah? Kalaupun tidak fisikmu, aku boleh memiliki cintamu? Aku boleh menerima sedikit saja rasa sayang?
Tidak. Aku tidak menuntut untuk diperhatikan. Aku hanya perlu kabarmu. Sedang apa kau? Bagaimana awal harimu? Apakah kau bahagia di sana? Sudahkah kau tersenyum pagi ini? Sudahkah kau minum kopi kesukaanmu? Ah yah, tiap pagi kau butuh cairan hitam yang kental itu, mengepulkan asap panas yang sebentar saja lalu hilang lenyap, menyesapnya hingga aromanya memenuhi paru-parumu. Itu jauh lebih baik daripada asap rokok yang memenuhi rongga udara dalam tubuhmu.
Tak banyak yang bisa kulakukan. Bukan, aku tidak menyalahkan jarak yang merentangi kita. Aku mengucapkan namamu, mengingatmu dalam doaku. Belum, aku belum menyerahkan emas ataupun perak padamu, yang sepatutnya memang kau terima tapi mudah-mudahan pemberian sederhanaku, tentang harapan dan tentang cinta, sanggup memenuhi hatimu dalam kedamaian. Kukirimkan itu karena doa tidak terbatas pada ruang dan waktu.
Aku berharap, kau bahagia, tenang dan senantiasa dalam senyummu. Tertawa, menari, dan bercanda. Dalam setiap detik, kuharap harapanmu dan harapanku, harapan kita, tidak pernah sia-sia. Semoga terwujud nyata kelak supaya kita bisa tertawa dalam kemenangan, walau mungkin bukan aku yang berada di sampingmu, di dekatmu saat itu. Sungguh, kabar sukacitamu lebih dari impian hidupku lainnya.
Aku ingin kau bahagia selalu. Sekarang dan seterusnya.


ADIOS.

Senin, 27 Februari 2017

The New Me

Rasanya seperti lahir baru kembali, mengingat lupa yang sempat ditinggal dan menemukan kembali apa itu bahagia yang ternyata kesemuaannya sederhana.
Seperti, laptop yang baru aja di-install dan sukses lancar jaya tinggal beberapa aplikasi dimasukan kembali, bahagia.
Bisa menyelesaikan tugas baca jurnal, bahagia.
Nggak mikir aneh, nggak ada beban, sensitive, menghalau pikiran buruk, bahagia.
Nggak cepat marah dan tersinggung, tetap bertahan dalam kesedihan yang segera ditepis, dan nggak perlu terlalu perduli dengan pelecehan karakter yang dilakukan orang, bahagia.
Sesederhana itu bahagia, bahwa bukan perkataan orang, bahkan bukan pemikiran diri sendiri yang mesti dipikirkan, itu sudah meningkatkan kebahagiaan aku 300%.
Semua itu berawal dari keterpurukan aku pada tanggal 18 Februari 2017, aku merasa di ujung kematian, tidak diinginkan, ditinggalkan dalam kesendirian, mencoba bertahan pada kaki yang rapuh dan pijakan yang seolah goyah karena diguncang sebegitu hebatnya. Aku terlepas dari peganganku karena peganganku tidak sekokoh itu untuk aku bertopang, pikiranku sendiri.
Aku terhempas jatuh dan hancur berkeping-keping. Ini tidak berlebihan karena seperti tidak ada yang tersisa, bagai abu yang diterbangkan ke udara bebas tanpa meninggalkan jejak. Mungkin hanya memori yang ada yang akan terlahap oleh waktu juga nantinya. Semuanya hilang.
Meratapi dalam waktu 7 hari, dan pada hari yang kedelapan, aku seperti lahir baru. Aku dibangun kembali, dan aku tidak pernah sama seperti sebelumnya. The new me!
Yang lebih ajaib, aku menyambung benang-benang merah, memintalnya menjadi rajutan kasih bahwa aku tidak pernah sekalipun ditinggalkan, aku bukan tidak diinginkan. Aku hanya dipaksa belajar cepat dalam waktu yang singkat, mengingat keterbatasan waktu yang semakin menyempit.
25 Februari 2017, mengingatkanku bahwa kebenaran tidak akan tersembunyi, bahwa ia akan dengan sendirinya memunculkan dirinya. Lalu untuk apa berusaha menonjolkan diri? Untuk menunjukkan kepalsuan diri? Terlalu sia-sia.
26 Februari 2017, memakukan ingatanku bahwa kelahiran baru, menjadi manusia baru, menanggalkan yang lama, tapi menjadi sesuatu yang tidak akan pernah sama seperti sebelumnya. Perubahan perlahan itu tidak perlu, terlalu menyakitkan karena meluruh sedikit demi sedikit. Perubahan mendadak bisa jadi tidak mudah diterima, tapi akan lebih manjur untuk dilakukan perbandingan, seperti kontras antara hitam dan putih, tanpa sempat kita melihat adanya zona abu-abu. Karena hanya ada iya dan tidak, diantaranya adalah kenihilan.
Hasil gambar untuk as simple as that
Tentu saja kesemuannya harus diuji, yang entah cara bagaimana pun emas yang murni didapat dalam proses yang tidak sesederhana itu untuk dilakukan, menjadikannya sesuatu yang mahal dan berharga. Tidak mengapa karena orientasi hasil yang baik berbuah dari rangkaian proses yang tepat dan benar. Kesemuannya sekali lagi adalah jalan-jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan yang lebih kekal, lebih tajam, lebih terarah, dimana fokus utama tidak lagi berhubungan dengan dunia.
Tentu saja kelelahan selama proses mungkin tidak terhindarkan, tapi mohonkanlah pada Sumber Energi agar dicukupkan dan dimampukan, toh kita hanya tulang balut kulit, butiran debu yang menjadikannya ada lalu tiada. Mungkin hanya bersisa nama untuk dikenang, atau mati untuk selamanya.

ADIOS.



Kamis, 23 Februari 2017

Si Waktu

Kalau dulu punya rasa yang kaya nano-nano buat ditelaah, supaya bisa dipilah mana yang buruk dan nggak, mana yang perlu dipertahankan dan mana yang dibuang, sekarang rasanya, plongg
Actually, aku nggak bisa cerita secara langsung bukan karena aku nggak mau, tapi lebih kepada karena aku sendiri nggak tahu apa yang harus aku ceritakan. Bukan kosong atau hampa, tapi saking banyaknya hal yang terbelit di otakku (kayanya) jadinya terasa lepas semua. Ibarat kata, tanganku yang dua ingin banget memeluk erat sebatang pohon beringin yang jelas-jelas nggak akan ketemu lengan dengan lengan, tapi aku masih keukeh, masih usaha, barangkali saja bisa. And finally, aku sendiri terluka.
Terus, aku berusaha manjat lagi pohonnya. Nggak peduli sama serat-serat kayu yang pada akhirnya menyusup masuk lewat kulit-kulit ari dan pori yang terbuka. Bahasanya kesusuban. Perih, sakit, dan mungkin saja tanpa aku sadari serat kayunya sudah menjalar mengikuti aliran darah dalam tubuhku. Itulah bahayanya. Aku terus memanjat dan jaraknya sudah cukup tinggi dari tanah dan tiba-tiba saja aku dipelantingkan ke bawah. Katanya aku curang dan gaya memanjatku menyimpang. Aku berdarah, dan terluka. Bukan luka yang terbuka yang terasa sakit, tapi luka akibat serat kayu yang menjalar tadi, sudah mengenai organ vitalku, menyerangku seperti pengkhianat dari dalam. Rasanya perih, sakit terkhianati oleh perasaan sendiri.
Hasil gambar untuk waktu
Lalu aku ditinggalkan, dalam kesendirian. Aku diperintahkan untuk bertahan, atau aku mati. Seolah pilihannya kalau mau hidup yah aku harus berjuang, menahan pilu dalam keluguanku yang tidak tahu bagaimana membalut luka. Mungkin aku mengandalkan saja si waktu supaya menyembuhkan lukaku dengan memanfaatkan sistem imun dan regenerasi sel secara alamiah. Walaupun aku juga tahu, bermain dengan waktu seperti pedang bermata dua, dia bahkan bisa membunuhkan atas seijin Penciptanya, tentu saja, dengan perlahan dan lebih menyiksa. Si waktu, bisa saja terlihat begitu memberikan aku harapan untuk pulih, padahal mungkin saja dia berbuat licik bahwa aku sebenarnya ditakdirkan untuk berakhir, hidupku.
Waktu mulai menagih bayarannya. Ia menyedot kebahagiaan, dia mengambil orang yang kusayang, dia meruntuhkan kepercayaan dalam sekejab. Kepercayaan yang kubangun seumur hidupku. Kalau peribahasanya ‘Karena nila setitik, rusak susu sebelanga’, begitulah waktu yang singkat telah menjungkir-balikkan hidupku, memporak-porandakannya tanpa ampun, dan mengobrak-abriknya tanpa seijinku. Dia terlalu arogan, karena katanya dia tidak memerlukan ijinku. Aku ditinggalkan dengan dagu ternganga karena aku tidak bisa melawan, lebih tepatnya aku tidak sempat melawan. Si waktu sudah bersembunyi kembali.
Aku berjalan, aku hidup, atau aku tidak? Aku tidak tahu karena tiap langkahku jadi tidak punya arti. Mataku terbuka, aku melihat, bukannya aku tidak mengerti atau aku tidak mau mengerti. Aku hanya tidak sampai mengerti dimana batas aku untuk berpijak, melangkah. Aku merasa dicurangi dan aku kehilangan arah. Aku bahkan tidak tahu harus mulai darimana ketika aku berada di titik nol, aku sebenarnya berada di persimpangan jalan menuju plus atau minus dan hal ini sungguh sangat menggelisahkan hatiku. Aku bukan berada diantara hidup dan mati lagi, aku berada di kebinasaan atau kehidupan. Dua-duanya bersifat kekal. Keduanya memberikan rasa takut yang sangat.
Tapi bukankah hidup harus memilih? Aku, tentu saja sudah menentukan pilihan (tentu saja kehidupan), tapi aku belum menentukan kapan aku mulai melangkah lagi, menata kembali isi hatiku. Apakah aku bisa mengharapkan sekali lagi pada si waktu? Mungkin aku bisa membujuknya agar mau berbaikan denganku, sekali lagi. Membantuku, walau memang ia adalah teman yang licik, tapi aku harus lebih pandai lagi dari dia. Mari bermain denganku waktu, biar kalau kau kalah, kalahlah sebagai pemenang karena pada akhirnya aku akan tetap keluar sebagai pemenang. Kau terkejut? Karena disegala sisiku, sebenarnya Penciptamu berpihak padaku. Kau bilang aku terlalu percaya diri? Aku hanya mempercayakan diriku pada Penciptamu.
Sudah, itu saja ceritaku dengan si waktu. Semoga dia tidak kembali mengamuk padaku karena aku membagikan kisahnya denganku lagi.

ADIOS.

Kamis, 09 Februari 2017

Green Coffee

Hasil gambar untuk green coffee nescafe
Bener-bener keterlaluan!

Kemarin baru nyoba green coffee, tapi bukan yang buat kurus itu. Niatnya memang sekalian bisa efek buat kurus. Ternyata eh ternyata, mata melek sampai tengah malam, padahal besok paginya ada ujian. Mantaplah.
Besoknya pas bangun, mata jadi melek banget, pas ujian nggak ada ngantuk, sampai sorenya nggak ngantuk. Coba tebak apa yang terjadi kemudian? Dari kemarin sampai kebesokannya, aroma kopinya masih melekat di air buang hajat. Buset, ini kok lengket banget yah? Di usus mengendap atau gimana yah? Padahal sudah minum dua liter air, tapi kok rasanya nggak terencerkan? (Dari prinsip kimia sih harusnya bisa karena seduh pakai air harusnnya larut dalam air meski sebagian).
Btw, hati-hati deh dengan efek kopi hijau ini. Kalau nggak ingin melek-melek banget, dopping nya jangan pakai ini karena overdosis reaksi meleknya.
Walaupun aku masih belum merasakan kurus, tapi emang sedikit banyak kopinya buat ketagihan. Manis aromanya unik gitu deh. Aku nggak bisa nyebut merek yah tapi bisa email pribadi kalau memang mau tahu apa.
Udah, sekian cerita random tentang kopi hijau.

ADIOS.


Senin, 06 Februari 2017

AYAH

Hasil gambar untuk father in siluet picture



Ayah
Pasti Kau sudah merencanakan akan hadirnya diriku dalam hidupMu, menjadi bagian pemanis yang indah dalam hari-hari yang kelak akan Kau habiskan bersamaku

Ayah
Pasti indah yah ketika mendengar tangis pertamaku, menyadari aku telah menjadi nyata adanya di dunia ini dan Engkau pasti menaruh berbagai harapan dalam doaMu untukku

Ayah
Kau pasti pria yang beruntung dan teman-temanMu pasti iri padaMu bahwa Kau telah menghadirkanku di dalam dunia ini, meskipun cela dan hina tak juga terhindar Kau dapat

Ayah
Setiap tetes peluh dan darahMu yang membasuh aku, dalam kenakalan dan perbantahan yang terjadi diantara kita, tapi Kau tetap memperjuangkan hidupku

Ayah
Terimakasih, karena Kau aku ada. Karena Kau aku hidup. Karena Kau aku hadir. Karena Kau aku mengerti akan arti cinta yang murni, bahwa tak kau pandang parasku, tingkahku, atau apa yang orang-orang lihat.

Ayah
Terimakasih telah mengenalkan aku tentang apa yang benar, mengajarkanku mengerti dan memahami kasih, memberikan aku harapan dan belajar rasa syukur

Ayah
Sejujurnya, akulah yang paling beruntung karena memiliki pahlawan tangguh seperti diriMu. DariMu lah kuterima segala sesuatu yang terbaik.

Ayah
Terimakasih untuk segala sesuatu yang kudapat. Aku mencintaiMu karena aku tahu Kau mencintaiku lebih dulu, lebih dari apapun dan siapapun di dunia ini.


ADIOS.


Diberdayakan oleh Blogger.