Langsung ke konten utama

Postingan

Dunia dan Kamu

Postingan terbaru

Kita Tidak Pernah

Kita tidak pernah berjalan di tempat, Sayang Kita hanya dua insan yang sedang bergandengan tangan Tapi tetap saja, kita masing-masing menempuh jalan yang kita tapaki
Kita tidak pernah tetap sama, Sayang Dunia berubah, waktu berubah, kita berubah Hanya harap menuju perubahan lebih baik, bukan?
Kita tidak pernah salah, Sayang Karena sudah mencoba mengulang dan bertahan Yang salah kalau kita menutup mata dan menulikan telinga pada fakta
Kita tidak pernah jenuh, Sayang Untuk akhirnya saling belajar, mengerti, percaya, dan setia Sampai akhirnya kita menemukan sesuatu yang benar dan bahagia kemudian

ADIOS

Fallen Crown

Seseorang mengatakan padaku bahwa ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan seperti drama di novel atau film di layar lebar. Begitu juga dengan aku, tapi hei, bukankah film dan tulisan itu terinspirasi dari sebagian kisah nyata yang kemudian dikembangkan lebih lanjut? Seolah tentang siapa yang lebih dulu dari siapa, seperti masalah telur dan ayam, begitu jugalah masalah ini. Jadi, siapa yang memulai?

Seolah kelucuan dari tingkah lugu yang aku lakukan tidak pernah berhenti mengundang tawa sekaligus serapah. Ada yang suka dan ada yang tidak. Hidup menjadi semakin sulit karena pengaruh ucapan orang lain. Padahal, kita sendiri yang menjalani, kenapa ‘Situ’ yang repot?
Ingin sekali memaki, mengumpat, menggunakan kata-kata kasar, tapi sepertinya terlalu sia-sia untuk dikatakan, yang tinggal hanya luka dan sakit hati. Lalu, dendam pun menghantui. Rasanya tidak puas kan kalau belum membalas? Begitulah sifat dasar manusia.
Seseorang juga pernah mengatakan padaku tentang harapannya agar musuhny…

Umur yang Beranjak

Mungkin, karena  pada dasarnya semua manusia itu baik adanya, tapi karena didesak oleh kebutuhan hidup dan tren nggak penting yang sering dipengaruhi dari media-media yang ada, karakter seseorang dapat berubah. Aku ingat bagaimana polosnya dulu, ketika masih memakai rok abu-abu, menganggap semua orang baik. Kami tertawa bersama, bercanda, dan bergaul akrab. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, atau golongan agama tertentu, siapa orang tua-mu, dan sehebat apa kamu di pelajaran MAFIA. Semua berbaur dengan asyik dan tidak ada pandangan meremehkan. Paling-paling, kehidupan putih abu-abu diisi dengan gossip kakak kelas yang pacaran dengan junior, atau ketua OSIS ganteng yang bisa dikecengin, atau sinetron apa semalam dan berita hot gossip para artis. Sudah. Itu saja. Dan sampai di sana, kami sudah puas. Sekarang, setiap orang seperti tidak bisa menjaga privasinya masing-masing, tidak punya hak untuk menutup mulut orang yang rewel mengomentari hidup pribadinya. Heran, bingung, dan beng…

Layang-layang

Kau tahu mengapa aku membencimu? Karena aku mencintai orang sepertimu! Aku rasa banyak pilihan di luar sana, yang lebih baik, mapan, dewasa, dan tampan dibandingkan dirimu, tapi aku lebih memilih untuk tidak bermain “Permainan Perbandingan” mengenai hal-hal yang terlihat seperti itu. Sikapmu itu, yang membuaiku dengan rasa nyaman dan membuatku menjadi malas untuk singgah atau sekedar coba-coba rasa yang lain. Aku sudah terlanjur membuat diriku sendiri terpaku pada satu pilihan, yaitu kamu. Kata orang, cinta itu buta, tapi kebutaan itu-lah yang nikmat, yang kurasakan sekarang. Betapa sialnya aku! Percuma aku mengutuk seorang yang terberkati seperti dirimu. Pada akhirnya, kutukan itu tidak pernah terjadi malah semakin lama semakin memberkati dirimu. Jujur, aku kesal. Mungkin kutuk itu malah berbalik padaku, mengutukku untuk bersama dengan dirimu sepanjang sisa usiaku. Sekali lagi, sial! Yang lebih parahnya adalah ketika kau mulai menyadari hal ini dan merasa di atas awan, merasakan keme…

Topeng

Mungkin aku terkesan tidak sepandai itu bergaul atau mungkin aku terlalu pemilih. Namun, jelas sekali aku lelah untuk bersandiwara, menggunakan rupa-rupa topeng di berbagai kondisi yang berbeda. Aku lelah hanya untuk menjadi seperti yang orang lain pandang. Bolehkah aku menjadi diriku sendiri? Sudah, aku sudah pernah mencobanya dan aku tahu rasanya diterima dengan ‘si topeng’. Rasanya senang, tapi kemudian topeng itu makin lama makin melekat di wajahku hingga aku sukar melepasnya. Sepertinya ‘si topeng’ ingin menjadi bagian dari diriku yang tidak mau dilepas. Sementara, kondisi lainnya tidak menyukai aku dengan ‘si topeng’. Musim berganti dan waktu terus berputar. Ketika keadaan tidak lagi sama, tibalah saatnya aku melepaskan ‘si topeng’, berganti dengan ‘topeng itu’. Sulit dan tidak mudah, sebab perekat ‘si topeng’ yang kucabut ikut melukai kulitku. Sedikit, tapi tetap nyeri. Belum sembuh dari luka, aku sudah harus mengenakan ‘topeng itu’. Begitu seterusnya, siklus itu berputar seolah…

Pertanyaan ini itu

Kadang aku kepikiran dan akhirnya nggak pernah menemukan jawaban dari pertanyaanku. Pertanyaan itu sederhana. Mengapa ada orang jahat di dunia ini? Padahal Tuhan sudah memberikan yang baik pada manusia. Apakah adanya perbedaan membuat seseorang ingin mendapatkan posisi yang sama dengan orang lain itu? Ada yang kaya dan miskin, namun semua Tuhan pelihara. Sama-sama oksigen yang kita hirup dan melepaskan CO­2. Lantas, mengapa bangsa-bangsa terlalu rusuh untuk memperebutkan sebuah batas garis tanah kepemilikan? Padahal, sama-sama tanah yang dipijak, bukan melayang di udara, sama-sama merasakan sayuran yang dihasilkan bumi, tempat kita huni bersama. Kalau Bumi adalah tempat tinggal kita, mengapa harus saling gusur, resah, dan marah? Mengapa tidak bersama membangun? Namun, yang kulihat hanya saling menjatuhkan dan menghancurkan, setiap kali ada kesempatan. Atau kalau memang belum ada kesempatan, dibuat-buatnya kesempatan itu. Mengapa ada air mata kalau tawa itu nikmat? Mengapa harus berteriak…