CURHATAN REMAJA 4G (GAUL GALAU GOKIL GAYUS)

Di sini saya akan berbagi cerita, puisi, guyonan yang semuanya fresh dari otak saya maupun dari pengamatan saya mengenai lingkungan sekitar. Entah apakah dapat menjadi inspirasi, pelepas kepenatan, pengobat rindu, sampai membuat anda tersenyum, syukur-syukur bisa ketawa. Silahkan menikmati.

Kamis, 31 Mei 2012

Cuaca dan Mood


Hari ini hujan, dari pagi cuacanya udah mendung. Kok jadi ikutan mendung yah? Mikirin jam sepuluh mesti balikin buku, nunggu jam 12 buat ketemu orang dan jam 1 kerja kelompok, terus sore jam lima mesti rapat. Waktunya bolong-bolong. Emang sih udah prepare bawa laptop. Tapi jadinya bolak-balik gedung A buat online dan itu supaya suasananya sepi, adem ayem.
Tapi, rame terus, hujannya parah, angin kenceng dan hawa dinginnya, brrrr...
Dan kejadian kemarin bikin berpikir-pikir, pikirin terus. Hari ini kalau ketemu gimana yah? Diem aja atau ngomong? Diem salah karena nanti dianggep kenapa gitu, kalau ngomong, yah, nanti omongannya salah lagi. Waduh, jadi serba salah yah.
Mendung, hujan, angin kenceng, awannya warna hitam, langit biru gelap, cuaca ini...
Masa sih mood itu tergantung cuaca. Kalau panas happy-happy aja gitu? Palingan teriak, “Panas!”
Kalau hujan teriaknya, “Hujan! Basah! Dingin!”
Jadi siapa yang serba salah. Jadi manusia yang ribet itu nggak oke.
Waduh, makin ngaco. Pokoknya nggak boleh sampai galau. Cuma sedang merenung-renung lagi. Besok harus bagaimana yah? Ngomong atau diam? Apa tergantung cuaca lagi?

ADIOS


Anak Kecil


Anak kecil bukan berarti selalu mereka yang berjiwa kekanakan. Menurut saya, ada hal yang penting yang perlu dicontoh dari seorang anak kecil.
Pertama, tentu saja kepolosannya.
Mereka melakukan ini dan itu secara bebas, tidak tertekan oleh kritik dari sekeliling mereka. Mereka selalu ingin tahu, bertanya ini dan itu bukan karena ingin dianggap pintar, untuk menjadi stalker atau biang gosip, mereka bertanya karena memang ingin tahu, melepaskan diri dari ketidaktahuan, kebingungan, dan apa yang belum mereka kenal.
Kedua, kerendahan hati.
Seorang anak kecil akan meminta maaf bila melihat ayah ibunya marah, merusak barang kakaknya, dan kebanyakan dari mereka mau mengakui kesalahan, dan tidak banyak berkilah. Seorang anak kecil juga akan menyetujui untuk memaafkan orang lain, walaupun ini semua arahan dari orangtuanya. Namun, mereka menurut saja karena merasa diri belum mengetahui apa-apa namun orangtua mereka lebih tahu dan lebih baik dari mereka.
Ketiga, keberanian.
Ketika melihat anak kecil bermain dengan katak yang melompat, ikan hias dalam aquarium, anak ayam, anak burung, atau anak bebek dalam sangkar, mereka bermain tanpa merasa jijik, tanpa takut seberapa kotor noda yang akan ditimbulkan, seberapa berbahaya racun dan infeksi yang mungkin terjadi. Asal mereka senang, mereka lakukan.
Mungkin, beberapa hal positif ini yang patut dicontoh oleh kita yang sudah menganggap diri dewasa, lebih tahu, lebih mengerti, namun sebaliknya, kita sesungguhnya terbuai oleh keegoisan kita, rasa was-was dan saling curiga, gengsi dan gaya hidup hedonisme, dan banyaknya prasangka dan praduga lainnya.
Dari situlah aku berpikir, anak kecil, mungkin hal itu lah yang menjadikannya menarik. Hal ini yang perlu dicontoh dari sikap anak kecil.
ADIOS.

Dimengerti Terus


Manusia itu selalu ingin dimengerti. Dimengerti disaat sedang sedih, marah, takut. Kebanyakan dari mereka ingin dimengerti dalam posisi diam.
"Aku diam, tapi mengertilah aku."
Seperti itulah kira2 yang diinginkan oleh manusia.
Aku, aku salah satu dari orang tipe itu. Mungkin kamu juga begitu. Tapi keegoan dari tiap individu mempunyai tingkatan yang berbeda. Ada yang lebih tinggi, ada yang lebih kecil. Diantara semuanya itu pastilah ada pihak yang mengalah, yang dituntut untuk mengerti orang lain meskipun dirinya sendiri, kepentingan dan masalahnya harus diabaikan. Muncul istilah pengorbanan. Tapi apakah definisi pengorbanan itu yang hakiki?
Pihak 'Pengorban' adalah pihak yang harus meminta maaf, pihak yang bersalah tiap waktu yang dalam tingkah lakunya wajib dipermasalahkan. Mereka adalah kumpulan orang yang seolah tak berguna dan perlu dihukum atas kesalahan kecil yang mereka lakukan, disingkirkan, dan diabaikan dalam kehidupan sosial yang ada.
Begitulah pihak yang harus mengerti sementara dia sendiri tidak dapat mengerti dirinya, siapa dia, apa pilihan dan keputusannya, karena terlalu banyak perintah yang telah merasuk ke otaknya untuk menjadi apa dan siapa dia seturut pihak lain.
Well, cukup rumit dan membingungkan. Hanya mau bilang, betapa keegoisan manusia untuk dimengerti tanpa mau mengerti orang lain lebih dahulu, hanya akan menimbulkan pihak yang terluka.
ADIOS


Di-Reset


Setelah berimajinasi sejenak, aku memikirkan tentang waktu. Terkadang ketika manusia ingin mencoba sesuatu yang baru karena keingintahuannya dapat mengakibatkan dua hal. Pertama, keadaan akan membaik. Kedua, keadaan akan menjadi buruk. Kedua hal ini dapat bertukaran suatu saat nanti.
Ketika sesuatu menjadi baik, kemudian manusia lupa akan kesulitan yang lalu, lupa bersyukur. Ketika keadaan menjadi buruk, manusia akan mengeluh dan mengatakan bahwa masa lalu lebih baik, lalu menyesal.
Setelah menyesal, lalu apa yang akan dilakukannya?
Manusia, tentu saja, tak dapat memutar ulang kembali waktu yang telah lalu. Mereka tak dapat mengulangi untuk mempertbaiki tindakan dari permasalahan apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Tapi menurut pendapatku, manusia bisa saja memperbaikinya.
Ada dua cara.
Pertama, memperbaiki apa yang salah dalam dirinya, lalu hubungannya dengan sesama dan lingkungan, dan berubah menjadi lebih baik.
Cara pertama ini memang sulit dilakukan. Butuh tenaga ekstra dan mental baja untuk menghadapi semua kepahitan pada awalny.
Cara kedua yaitu, bertahan. Membiarkan semuanya berlalu seperti itu saja karena merasa diri tak mampu memperbaikinya, tidak diberi kesempatan untuk perbaikan, maupun kerusakan parah dari situasi yang ada. Bertahan disini maksudnya yaitu sampai tiba waktunya nanti, mengubah semua keadaan yang ada. Hidup di lingkungan baru, orang-orang baru, kebudayaan baru, bahasa baru, memiliki sikap adaptasi yang baru, dan cara hidup yang baru.
Aku menamakan ini me reset waktu. Waktumu yaitu pengulangan kembali hidupmu tanpa perlu merubah kehidupan lama yang kini menjadi kenangan, menjadi sebuah pengalamanmu untuk belajar. Belajar bersosialisasi, bertingkah, berbicara, menahan amarah dan sabar, belajar mengasihi, belajar mengampuni dan meminta maaf sebagai kerendahan hati.
That’s all .
Terimakasih sudah membaca sampai sini.
ADIOS.

Rabu, 30 Mei 2012

Sahabat itu...


Waktu itu aku sedang berkomunikasi dengan seorang teman melalui sms. Kita membicarakan mengenai tingkatan hubungan dalan kehidupan ini. mulai dari lumut, tahu, kenalan, teman, sampai sahabat.
Saat temanku bertanya tentang siapa dia, apakah sudah sampai tahap sahabat, aku bingung mau menjawabnya apa. Masalahnya kalau menjawab tidak, tak enak nantinya, kalau menjawab iya, erggg...
Gini, sahabat itu dalam konteks biasa memang teman deket, sering bareng-bareng, kemana-mana bareng, ikut acara bareng, nyusun jadwal bareng, pokoknya menempatkan waktu dan kegiatan bersama-sama. Bukan hanya itu saja, jadi tempat curhat, sharing masalah, berbagi cerita, suka dan duka.
Tapi...
Bagiku, bukan sekedar itu saja. Kalau konteksnya itu, sahabat bisa jadi siapa saja, dengan sogokan uang mungkin, mungkin loh, akan bisa mendapat ‘sahabat’ dalam definisi itu.
Sahabat itu adalah orang yang selalu ada 24 jam/ 7 hari. Sahabat itu adalah orang yang selalu bisa dicurhatin, nggak akan ngeluh tentang kelemahan kita, adalah orang yang selalu siap sedia menolong kapanpun, adalah dia yang marah kalau kita udah aneh-aneh, selalu bisa menasihati kita, nggak akan takut kalau kita marah karena telah memberi tahu sesuatu yang benar pada kita, dan yang terakhir dan yang paling vital tentang sahabat ialah, dia yang rela mati buat kamu.
Ini nih yang aku anggap sahabat, maka itu aku bingung kalau menjawab iya, yah seperti itu.
Satu, ada Satu yang mau dan telah mati bagiku. Dia-lah yang menjadi sahabatku. Dia memenuhi kriteria diatas, semuanya, nggak ada yang miss satupun.
Dia namanya YESUS KRISTUS.

ADIOS

Jumat, 25 Mei 2012

Perihal : Handphone


Mungkin bagi sebagian orang ini hanya sebuah kebetulan. Lagi-lagi sebuah kebetulan, keberuntungan orang menyebutnya. Kalau begitu, aku adalah orang yang beruntung yah.
Sebuah kisah kecil, sebuah pengalaman yang hanya bisa aku ceritakan, entah percaya atau tidak.
Sore itu, setelah berbincang sebentar dengan teman untuk mengurusi beberapa permasalahan yang syukurnya bisa terselesaikan sore itu juga, aku akhirnya pulang karena masih dalam masa-masa UAS dan besok masih ada mata kuliah yang diujikan dan aku harus mempersiapkannya.
Setelah berjalan dari kantin menuju halte, dari halte naik bus, turun bus menuju tempat aku menetap selama aku berkuliah, akhirnya aku dapat mendaratkan pantatku di kursi belajar yang biasa aku duduki.
‘Ngadem’ sebentar lalu aku berganti pakaian. Aku merogoh-rogoh ke dalam tas bagian depan untuk mencari handphone-ku. Aku sering menggenggamnya dan bila tidak diperlukan, maka handphone itu akan aku masukan ke dalam tas bagian depan.
Aneh, aku sudah mencari lagi dan lagi di tempat itu, tidak ada.
Entah kenapa, aku hanya berkata, “Hilang yah? Ketinggalan?”
Hatiku tenang saja, tidak ada perasaan takut dan cemas.
“Cari lagi,” suara hatiku memberi instruksi.
Aku mencari lagi di tempat yang sama. Hasilnya sama, nihil. Aku memutar otak, apakah handphoneku tertinggal di kantin? Kalau ya, aku berharap temanku tadi menemukan dan menyimpankannya untukku. Kalau tidak, aku berharap petugas kantin menemukan dan jujur mengembalikannya padaku.
Akhirnya, aku berganti pakaian yang tadi, masih sempat ikat rambut dan memakai jam tangan. Aku mengunci pintu dan menuju halte untuk kembali ke kampus. Entah mengapa saat itu aku membawa kembali tas-ku ke kampus, padahal hanya untuk mencari handphoneku. Aku tidak berlari kencang-kencang, hanya berlari kecil seperti orang jogging. Aneh, rasanya tenang dan aku masih sempat tersenyum sendiri. Entah untuk meredakan ketegangan atau memang...tidak, aku memang tenang.
Jadi, baru saja aku melangkah keluar dari pintu tempat aku menetap sementara (bukan pintu kamar), aku mendengar nada sms handphoneku yang sudah sangat aku hafal.
“Tring-ling-ling-tring.”
Aku menghentikan langkah. “Itu kan?”
Aku kembali masuk ke dalam dan duduk di sofa di ruang tamu untuk mengecek kembali ke dalam tas ku.
KETEMU! EUREKA!
Handphoneku ada di bagian saku tas yang tak terduga itu. Aku jarang sekali menaruhnya di sana. Dan serasaku, aku sudah mengeceknya. Karena handphone terletak di bawah kalkulator yang menutupi, jadi mungkin tadi terlewat saat pengecekan.
Aku mengecek sms yang masuk ke handphoneku dan pengirim pesan adalah teman yang tidak terlalu sering berkomunikasi denganku lewat sms untuk sekedar mengobrol, kami sms kalau memang penting. Saat itu dia menanyakan perihal perkuliahan semester pendek nanti.
Aku tertawa sendiri. Entahlah kalau ada yang melihat dan mengira aku gila. Bukan karena isi sms-nya, tapi karena ‘kebetulan’ yang  orang lain sebut, tapi aku menyebutnya, ‘KEBAIKAN TUHAN!’.
Yah, coba kau bayangkan. Berapa banyak waktu dan tenaga yang harus terbuang percuma untuk berjalan menuju halte, menunggu bus, bergelantungan dan berdesakan di bus, lalu berjalan menuju kantin kampus dari halte, mencari dan bertanya sana-sini dan ternyata ada di dalam tas yang aku gendong. Betapa malunya bukan?
Aku bersyukur, sangat teramat bersyukur. Dalam suatu perkara kecil, TUHAN sangat baik dan begitu memperhatikan aku. Aku hanya dapat berkata, “Terimakasih, YESUS.”


ADIOS

Minggu, 13 Mei 2012

Pengalaman Sehari

Banyak permintaan untuk menambah tulisan baru di blog ini. aku juga sangat  menginginkan yang sama. Entahlah itu tugas tiada henti serta ujian yang harus dihadapi, semua seolah membuat aku harus rehat sejenak untuk menulis.
Fiuh, disela waktu malam, selagi menunggu poster yang harus di save lama sekali, sudah kurang lebih dua jam aku menunggu, jadi aku memutuskan untuk menulis ala kadarnya, yang penting menulis.
Banyak sekali kejadian yang seolah terlewat dan yang awalanya ingin diulas panjang lebar di sini malah tertunda yang hanya meninggalkan samar-samar ingatan tentang apa saja yang ingin diutarakan.
Yang aku ingat, waktu itu tanggal 2 Mei 2012.
Aku harus menghadiri suatu acara penting di Jakarta. Aku langsung menuju stasiun KRL dan menempuh jarak dan waktu yang cukup singkat untuk menuju Jakarta dari Depok.
Setelah usai dengan acara yang sangat menarik dan berkesan itu, aku yang tadinya mau pagi-pagi kembali ke Depok karena keesokannya masih harus menjalani perkuliahan, akhirnya malam setelah acara itu, aku melanjutkan perjalananku untuk kembali ke Depok.
Tiba di stasiun Gambir sudah menunjukkan pukul 9.00 PM dan kereta datang beberapa menit kemudian. Aku naik di gerbong khusus wanita. Baru saja perjalanan keluar dari stasiun Gambir beberapa menit, kereta berhenti. Setelah diusut, ternyata stasiun Manggarai mengalami pemadaman listrik. Karena gerbong ber-AC, dengan para perempuan dimana ibu-ibu mendominasi di sini, aku duduk saja dengan tenang. Selain itu, adanya pancaran Wi-Fi dapat menemani aku untuk melakukan browsing di dunia maya. Maklum, aku sangat jarang on-line­ dengan menggunakan HP kalau bukan dengan hotspot gratis.
Setelah perjalanan yang memakan waktu satu setengah jam, akhirnya tibalah aku kembali di Depok, dengan menggunakan jasa ojek, aku kembali ke tempat tinggal sementaraku selama kuliah. Sampai di kamar, aku menarik nafas dalam dan mengirim pesan pada orang-orang yang aku tahu akan khawatir dengan keadaanku dan aku tidak mau kekhawatiran mereka berlarut.
Aku merenungkan hidup ini. pengalama panjang, melelahkan tapi sungguh mengasyikkan. Aku seorang perempuan yang berusia dini bisa melakukan perjalanan panjang hingga larut. Aku bersyukur pada TUHAN bagaimana IA menjagaku selama perjalanan. Bersyukur itu enak, menikmati apa yang terjadi di sekeliling, mengurangi celotehan tak berguna atau sekedar keluhan yang menambah lelah.
Aku bersyukur bahwa akhirnya, aku boleh kembali dengan selamat. Entahlah bagaimana lagi kuungkapkan betapa baiknya TUHAN itu bagiku. Terimakasih untuk YESUS KRISTUS, BAPA ROH KUDUS.

ADIOS